Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemkab Banyuwangi menggelar wayang selama tiga hari tiga malam non-stop meraakan Hari Wayang Nasional. Pagelaran akbar ringgit purwo atau wayang tersebut dipusatkan di RTH Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo.
Pertunjukan tersebut menampilkan parade 3 dalang asal Banyuwangi. Mereka memainkan tokoh-tokoh wayang kulit dengan gaya dan karakter yang berbeda-beda.
“Festival ini salah satu yang mendapat animo tinggi dari warga Banyuwangi, khususnya warga di Banyuwangi Selatan yang biasanya kita kenal dengan daerah Mataraman. Wayang menjadi atraksi yang ditunggu warga,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menyaksikan festival wayang di RTH Karetan, Purwoharjo.
Bupati Ipuk menyebut, kegiatan ini juga sebagai salah satu penghargaan bagi pada pelaku wayang. Terlebih, wayang telah mendapat pengakuan dari UNESCO.
“Ini juga menjadi bentuk apresiasi dan pelestarian wayang kulit sebagai warisan budaya tak benda yang telah diakui oleh UNESCO sejak 2 November lalu. Wayang itu salah satu identitas budaya Indonesia yang harus terus kita hidupkan dan uri-uri,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Pemkab Banyuwangi Dapat Hadiah Rp 9,15 Miliar dari Kemenkeu
Menurut Ipuk, wayang kulit adalah bagian dari tradisi positif yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Wayang kulit menjadi sarana menyampaikan pesan moral positif.
“Wayang kulit itu sendiri sangat lengkap dan luas. Wayang kulit sarat kreativitas, ada seni rupa, ada seni peran dalam teaternya, ada seni suara, juga ada seni musik. Festival Wayang Kulit akan terus lanjutkan dan kita dukung pengembangannya,” kata Bupati Ipuk.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda, mengatakan kegiatan Festival Wayang Kulit ini berlangsung selama tiga hari tiga malam. Festival Wayang Kulit 2023 ini menghadirkan lakon Ampak-Ampak Manahilan yang dimainkan oleh Dalang trio, yaitu Ki Sanggit Abhillawa, Ki Galih Kidung Wibowo, dan Ki Edo Sabdo Carito.
BACA JUGA:
Panas Berkepanjangan, Ribuan Warga Banyuwangi Serentak Salat Istisqa
“Lakon ini mengisahkan penyesalan raksasa yang melakukan peperangan balas dendam di hutan Manahilan. Meski mengerahkan segala kekuatan, namun sang raksasa tetap kalah dengan kesatria kebenaran. Lakon ini dipilih sebagai bentuk refleksi diri dan introspeksi bagi masyarakat untuk selalu berbuat baik dan menjauhi kejahatan,” ungkap Bramuda.
Festival Wayang Kulit 2023 ini mendapat antusiasme yang luar biasa dari warga. Ribuan orang menghadiri pertunjukan wayang tersebut. “Warga Banyuwangi selatan memang banyak dihuni warga suku Jawa, untuk itu kami menggelar wayang di wilayah ini. Banyak peminatnya,” ujarnya. [rin/beq]






