Lamongan (beritajatim.com) – Banjir yang melanda Kabupaten Lamongan akibat luapan Sungai Bengawan Njero hingga kini masih terjadi. Tak hanya merendam tambak atau lahan pertanian, banjir juga meluap ke permukiman warga, akses jalan dan sejumlah fasilitas umum lainnya di kawasan tersebut.
Kawasan Bengawan Njero sendiri merupakan wilayah yang berbentuk mangkuk dengan dasar yang bergelombang dengan elevasi -0,70 meter, di sebagian wilayahnya bahkan ada yang sampai -1,20 meter.
Sehingga, air dari perbukitan selatan dan area sebelah barat melalui sungai Moropelang, Gondang, Kruwul, Plalangan dan Dapur berkumpul di Bengawan Njero.
Tak mustahil jika kawasan Bengawan Njero ini merupakan daerah yang langganan disatroni banjir pada saat musim penghujan tiba.
Setidaknya ada 28 desa di 5 kecamatan di Lamongan yang masih tergenangi banjir. Lima kecamatan tersebut di antaranya adalah Turi, Kalitengah, Glagah, Deket dan Karangbinangun.
Lantaran banjir tersebut, sejumlah aktivitas warga pun banyak yang terkendala, tak terkecuali aktivitas pendidikan dan belajar mengajar di sejumlah lembaga pendidikan yang berada di kawasan tersebut.
Oleh sebab itu, kewaspadaan terhadap bencana banjir kepada warga mutlak diberikan, termasuk pada anak-anak. Hal itu seperti yang tampak di salah satu sekolah di Lamongan, yang memberikan pengetahuan tentang banjir kepada siswanya.
Diketahui, sekolah yang memberikan pengetahuan mitigasi bencana banjir kepada anak didiknya itu adalah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah, Desa Rayunggumuk, Kecamatan Glagah, Lamongan.
Kepada para anak didiknya, guru di sekolah tersebut mengajak para siswa yang duduk di kelas 4 sampai 6 untuk mengenal banjir dengan belajar di luar ruangan, tepatnya di halaman sekolah.
“Sampai saat ini banjir masih merendam desa kami. Untuk mengantisipasi peristiwa banjir ini, kami memberikan pengetahuan kepada anak-anak didik kami,” kata H. Fadholi, Kepsek MI Islamiyah saat diwawancarai, Kamis (17/2/2022) pagi.
Fadholi melanjutkan, bahwa Desa Rayunggumuk adalah salah satu desa yang rutin terimbas banjir luapan Bengawan Njero. Bahkan, sudah hampir 2 bulan ini banjir telah menggenangi desa mereka.

Menyikapi hal itu, Fadholi menyebut, sekolahnya mengambil inisiatif untuk mengajak anak didik mereka belajar di halaman sekolah secara bergantian, dari mulai kelas 4 hingga kelas 6.
“Perlu menyiapkan mitigasi bencana kepada anak-anak kami, sebagai upaya untuk mengurangi resiko bencana, melalui penyadaran dan peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana,” terangnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”banjir-lamongan”]
Lebih lanjut Fadholi menuturkan, mitigasi bencana banjir dengan mengajak para siswa belajar di luar kelas ini tak hanya dilakukan sekali ini saja. Untuk mata pelajaran lainnya pun juga kerap dilakukan di luar kelas.
Pihaknya mencontohkan, semisal ketika pelajaran yang berkaitan dengan tumbuhan, maka para guru di sekolah ini sering mengajak anak didiknya ke taman maupun tempat lainnya sebagai tempat observasinya.
“Kalau yang saat ini terkait mitigasi banjir ini kami sesuaikan dengan pelajaran IPA dan IPS,” jelas Fadholi.
Sementara itu, para siswa MI ini tampak menikmati suasana kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di luar ruangan kelasnya. Banjir setinggi lebih kurang 10 cm tak menyurutkan niat mereka untuk tetap belajar meski kondisi sulit melilit mereka.
Para siswa yang bertelanjang kaki tersebut duduk di kursi bersama meja yang sudah tertata rapi di halaman sekolahnya sembari mendengarkan penjelasan dari guru mereka tentang kesiapsiagaan terhadap banjir.
“Meski belajar di atas banjir, tapi saya senang,” ucap salah seorang siswa MI Islamiyah bernama Tiara.
Tiara mengaku, selain bisa mengenal tentang ragam kesiapsiagaan bencana banjir, ia bersama teman-temanya juga bisa lebih bebas, karena tidak terkekang dengan ruang atau sekat kelas. “Kami jadi tahu apa-apa yang bisa kami lakukan saat banjir seperti sekarang ini,” ungkapnya.[riq/ted]






