Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya didorong agar memiliki wawasan yang lebih luas terhadap sikap toleransi.
Mereka diharapkan agar bisa lebih aware. Sebab, sebagai mahasiswa di bidang komunikasi, mereka memiliki tugas untuk menjembatani adanya perbedaan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Hal itu disampaikan Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur Aan Anshori saat memberikan Kuliah Tamu ‘Membangun Komunikasi Multikultural; Belajar dari Pengalaman-Pengalaman’ di UKWM Surabaya, Kamis (3/11/2022).
Aan menjelaskan, bahwa ilmu komunikasi tidak hanya digunakan pada areal bisnis dan areal yang tidak ada kaitannya dengan kewajiban moral. Namun, ilmu komunikasi juga bisa dipakai melakukan pembelaan terhadap konstitusi, kemanusiaan, dan toleransi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”UKWM”]
“Jadi ketika kalau ada orang mengatakan kamu jangan nongkrong dengan orang yang berbeda agama, itu sebenarnya adalah konstruksi yang kita harus sadari itu ada, dan berusaha memahami soal itu, tidak malah kita melakukan mata dibalas mata,” katanya.
Gus Aan, sapaan akrabnya itu mencontohkan, mengapa banyak muslim yang memiliki pandangan sedikit miring terhadap umat kristiani. Menurutnya, hak itu karena memang orang ‘Islam Jawa’ tidak mengetahui orang Kristen. “Tugas kita orang-orang Fikom, bagaimana menjembatani pertemuan itu supaya tidak salah paham,” lanjutnya.
Sementara itu, Akhsaniyah, Dosen Ilmu Komunikasi pengampu Mata Kuliah Komunikasi Multikultural menjelaskan, bahwa kuliah tamu ini untuk memberikan gambaran terkait realitas yang terjadi di masyarakat.
Ia menyebut, kasus intoleran saat ini terhitung sangat tinggi. Dari situlah, dirinya ingin menunjukkan kepada mahasiswa bahwa sebenarnya mereka bisa melakukan hal-hal yang lebih toleran lagi, dengan pengalaman-pengalaman yang disampaikan oleh narasumber.
Dirinya berharap, kuliah tamu ini bisa lebih memberikan pemahaman kepada mahasiswa. Selain itu, ke depan toleransi juga bisa terus terpupuk. “Manusia itu lahir dengan perbedaan, tidak selalu manusia itu selalu dengan persamaan. Kita nggak perlu mencari persamaannya, kita berbeda, ya sudah itu saja yang kita jalani,” ujarnya.
“Memberanikan bersuara ketika ada kasus intoleran. Kita harus bersuara dan paling bagus banget ketika kita juga membela bahkan ikut dalam menyelesaikan persoalan-persoalan intoleran. Itu harapan yang tertinggi,” tandasnya. (ipl/kun)






