Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir membahas soal isu strategis, salah satunya terkait rezimentasi agama. Hal itu disampaikan Haedar secara virtual pada Senin (7/11) di acara Media Gathering yang diadakan di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta.
Haedar mengungkapkan bahwa isu strategis merupakan persoalan yang diambil dan Muhammadiyah memiliki kepentingan di dalamnya untuk memberi solusi atas persoalan tersebut. Terkait isu strategis, pihaknya bukan hanya mencoba melihat secara objektif dan jernih, tapi juga menawarkan solusi.
“Satu diantaranya adalah tentang rezimentasi agama. Atau rezimentasi paham agama. Ini mungkin sesuatu yang baru ketika isunya tentang radikalisme agama, ekstrimisme agama, identitas politik agama dan lain sebagainya,” kata Haedar yang dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Selasa (8/11/2022).
Rezimentasi agama, kata Haedar, merupakan masalah di mana agama secara bias dan subyektif lalu ingin disenyawakan dengan negara dan menjadi kekuatan negara. Menurutnya, hal itu berlawanan dengan ide dan cita-cita Indonesia sebagai Negara Pancasila Darul Adhi Wa Syahadah.
Selain membahas rezimentasi agama, dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah, juga akan fokus memperkuat beberapa program yaitu dakwah komunitas, konsep tadayun atau pandangan keagamaan dan isu strategis aktual.
[berita-terkait number=”5″ tag=”muhammadiyah”]
“Indonesia yang masyarakatnya punya budaya gotong royong dan relasi sosial masyarakatnya yang kuat akan tercerabut jika komunitas ini rentan. Maka Muhammadiyah akan memperkuat komunitas ini baik di pedesaan, perkotaan sampai tempat-tempat terjauh,” tutur Haedar.
Dia juga mengatakan bahwa Muktamar Muhammadiyah dilakukan secara sistematis. Berbagai materi yang akan dibahas dalam Muktamar 48 sudah dikirimkan tiga bulan sebelum pelaksanaan.
Guru Besar Sosiologi ini menambahkan bahwa penguatan program dakwah komunitas di muktamar ini memiliki manfaat. Tak hanya dirasakan oleh warga Muhammadiyah dan umat Islam saja, tetapi hal ini juga bermanfaat bagi bangsa di tengah dinamika yang dihadapinya.
Menurut Haedar, di abad 21 dengan kemajuan teknologi dan modernitas akan terjadi perubahan landskap dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya bangsa.
Dia menambahkan, Muhammadiyah merupakan organisasi yang memiliki jaringan yang luas, kuat dan akuntabel. Jaringan yang terstruktur dengan rapi mulai dari pusat sampai ranting ini merupakan modal besar dalam memperkuat dakwah komunitas.
Selain itu, Muktamar ke-48 Muhammadiyah juga akan memperkuat konsep tadayun atau memperkuat basis, jiwa atau alam pikiran dan praktek beragama yang menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan.
“Maka di Muktamar ini kita menyusun konsep besar sebagai tindak lanjut dari Islam Berkemajuan yang disebut dengan Risalah Islam yang Berkemajuan,” ucap Haedar.
Dia menilai, terdapat masalah-masalah tertentu umat beragama sebagaimana masalah-masalah yang ada di entitas lain dengan berbagai afiliasi. Dia menyebutkan, adanya politik identitas maupun kekerasan yang dikaitkan ke agama menjadi salah satu alasan disusunnya Risalah Islam yang Berkemajuan.
“Sesungguhnya juga bahwa ada di identitas lain itu ada banyak problem juga, hanya kita mungkin saat ini tidak membuka cakrawala itu saja,” imbuhnya.
Haedar juga menjelaskan, pihaknya ingin mengembangkan energi positif. Selain itu, dia juga menyebutkan bahwa agama memiliki pengaruh yang besar.
“Kita ingin energi positif itu jauh lebih dikembangkan ketimbang energi negatif. Dan agama itu punya kekuatan dahsyat, dan dia merupakan sesuatu yang sakral untuk kita jadikan sebagai energi konstruktif, dan itulah Islam Berkemajuan,” lanjut Haedar.
Oleh karena itu, dirinya mengajak kepada seluruh warga bangsa memenuhi ruang publik dengan energi positif. Dalam memajukan peradaban, negara harus bersatu dengan berbagai latarbelakang berbeda, dibalut dengan kekuatan agama, makan Indonesia akan menjadi kekuatan besar. (nap)






