Surabaya (beritajatim.com) – Tak hanya teknologi digital yang terus tumbuh dan berkembang. Dunia kesehatan pun terus melakukan terobosan-terobosan baru guna membantu banyak orang. Salah satu yang terbaru dan cukup menggemparkan adalah keberhasilan para ahli bedah dari New York University, Langone Health mencangkokkan ginjal babi ke tubuh manusia.
eksperimen ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Namun, percobaan ini menjadi yang pertama kalinya memberikan hasil positif. Sebab, dari percobaan yang dilakukan, tidak ada penolakan dari tubuh manusia pada ginjal babi ini. Bahkan, ginjal yang dicangkokkan dan tetap di letakkan di luar tubuh ini berhasil menyaring kotoran dari manusia.
Percobaan ini dilakukan kepada pasien penderita mati otak yang merupakan pasien penerima donor organ terdaftar. Artinya, pasien yang dicangkok ginjal babi tersebut secara medis sudah dinyatakan meninggal dan masih tetap bertahan hidup karena bantuan alat-alat kesehatan. Keluarga pasien pun sudah memberikan izin pada para peneliti untuk melakukan percobaan tersebut.
Hingga 54 jam percobaan, ginjal babi tersebut tetap diletakan berada diluar tubuh pasien dimana ahli bedah dapat mengamati organ dan mengambil sampel jaringan. Meskipun ginjal babi tersebut tidak ditanamkan didalam tubuh pasien, akan tetapi prosedur tersebut hingga saat ini masih dalam penelitian dan masih memungkinkan tim untuk melihat apakah organ tersebut akan segera gagal atau tidak.
Karena hingga sejauh ini masalah penelitian transplantasi organ hewan ke manusia biasanya terjadi karena ada karakteristik perbedaan antara darah manusia dengan jaringan hewan, seperti dipembuluh darahnya.
Alasan menggunakan organ babi adalah karena organ babi menawarkan sejumlah keuntungan untuk transplantasi, Misalnya, menghasilkan banyak anak dalam periode kehamilan yang singkat dan beberapa organ memiliki kesamaan yang sangat mirip dengan manusia. Namun daripada hal itu, organ babi juga memiliki kekurangan.
Yaitu Jaringan babi membawa gen yang mengirim molekul gula yang disebut alpha-gal, yang dapat membuat sistem kekebalan manusia menjadi gila dan menyebabkan penolakan organ. (Pada orang dengan alergi daging merah yang langka, alpha-gal dapat memicu reaksi alergi yang mengancam jiwa).
Akan tetapi perihal keberhasilan kemarin para ilmuwan telah melakukan transplantasi ginjal babi rekayasa genetika yang tidak memiliki gen penghasil gula tersebut. Untuk mempersiapkan organ ginjal babi untuk transplantasi, tim sudah memodifikasi ginjal dengan satu cara tambahan yaitu mentransplantasikan thymus babi dan kelenjar kecil yang dapat membantu melatih sel-sel kekebalan tubuh untuk melawan infeksi ke dalam ginjal tersebut.
Dalam prosedur penelitian dan pembedahan tersebut dilakukan oleh dokter profesional Dr. Robert Montgomery, yang memimpin tim bedah di NYU Langone Health. Mengingat hasil yang menjanjikan, percobaan ini dapat mewakili langkah maju yang besar untuk xenotransplantasi atau transplantasi dari hewan ke manusia.
Akan tetapi masih banyak pertanyaan dan rasa penasaran, Menurut Dr.Dorry segev seorang profesor bedah transplantasi di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut menyatakan dirinya masih penasaran tentang bertahannya umur organ tersebut. [ptr/tur]






