Bojonegoro (beritajatim.com)- Masalah kelangkaan pupuk subsidi yang sering dialami petani di Bojonegoro menjadi perhatian utama pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati nomor urut 02, Setyo Wahono-Nurul Azizah. Setyo Wahono telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengatasi krisis pupuk subsidi yang kerap dikeluhkan para petani.
Dalam acara pelatihan pembuatan pupuk organik yang diadakan oleh kelompok tani “Tumbuh Gerak Tani” di Dusun Sekidang, Desa Soko, Kecamatan Temayang, Setyo Wahono menegaskan pentingnya ketersediaan pupuk bagi produktivitas pertanian. Ia mengatakan bahwa masalah pupuk subsidi yang terbatas sangat mempengaruhi hasil panen petani.
“Pelatihan ini sangat membantu para petani hutan yang selama ini kesulitan mendapatkan pupuk subsidi,” ungkap Setyo Wahono, Kamis (17/10/2024).
Putra asli Bojonegoro dari Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Setyo Wahono berkomitmen menjalankan beberapa langkah strategis guna mengatasi kelangkaan pupuk subsidi. Ia berencana menjalin kerja sama dengan distributor pupuk dan pemerintah pusat untuk memperlancar distribusi pupuk. Selain itu, jika terpilih sebagai Bupati, ia juga berencana meningkatkan kuota pupuk subsidi bagi para petani hutan yang belum tercakup secara maksimal.
“Kami sedang berusaha meningkatkan kuota pupuk subsidi di Bojonegoro, yang saat ini hanya mencakup sekitar 70 persen dari kebutuhan,” ujar Wahono.
Setyo Wahono juga mempromosikan penggunaan pupuk organik sebagai solusi alternatif untuk menghadapi keterbatasan pupuk subsidi. Menurutnya, pupuk organik memberikan kemandirian bagi petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk.
Selain itu, Wahono telah menyiapkan program inovatif bernama Kartu Petani Maju Baru yang menawarkan berbagai manfaat bagi petani di Bojonegoro. Pemegang kartu ini akan mendapatkan akses ke pupuk dan bibit gratis yang disesuaikan dengan kondisi lahan, bantuan permodalan, edukasi tentang kalender musim dan manajemen air, serta layanan konsultasi pertanian.
Petani juga akan mendapatkan pemberdayaan pertanian berkelanjutan yang responsif terhadap perubahan iklim dan tahan terhadap bencana. Program ini juga menyediakan informasi harga komoditas pertanian, akses ke jaringan pasar, serta dukungan untuk meningkatkan nilai produk pertanian melalui pengembangan kemasan dan layanan asuransi pertanian.
“Kami akan menjamin ketersediaan pupuk melalui pendirian koperasi yang bekerja sama dengan BUMDes untuk menjaga stabilitas harga pupuk,” tegas Wahono.
Lebih lanjut, Setyo Wahono, yang juga merupakan adik dari Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, berkomitmen untuk membangun hilirisasi produk pertanian dan infrastruktur pendukung, seperti embung, waduk, serta jaringan irigasi pertanian untuk daerah yang jauh dari Sungai Bengawan Solo. Dengan infrastruktur ini, petani diharapkan dapat melakukan tanam padi dua hingga tiga kali dalam setahun.
Setyo Wahono berharap program-program yang ditawarkannya dapat meningkatkan kesejahteraan petani di Bojonegoro, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. “Petani hutan di Bojonegoro berjumlah hampir 30 hingga 40 persen dari total petani, sehingga program ini sangat relevan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” pungkas Setyo Wahono. [lus/aje]






