Ngawi (beritajatim.com) – Ruang kelas I, II, dan III SDN 7 Sidolaju, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, tak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Atap di tiga ruang kelas itu roboh.
Akibatnya, para siswa terpaksa belajar di mushala desa setempat dan di perpustakaan sekolah. Tidak ada kepastian kapan atap ruang kelas itu bisa diperbaiki.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Ngawi Sumarsono membenarkan kondisi tersebut. Dia mengaku sebelum roboh, pihaknya sudah mengajukan Dana Alokasi Khusus ke pemerintah pusat.
Dana itu rencananya dipakai untuk rehabilitasi bangunan serta penambahan ruang kelas. Namun, dana tersebut belum juga cair.
“Sudah kami ajukan untuk rehabilitasi dan penambahan ruang kelas dengan dana DAK di tahun 2023. Tak hanya rehab tapi juga penambahan satu ruang kelas,” kata Sumarsono pada beritajatim.com, Jumat (22/7/2022)
Namun, karena bangunan atap sudah terlanjur roboh pada Selasa (19/7/2022), pihaknya segera melakukan pengajuan anggaran untuk rehab pada Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) 2022. Namun, dia hanya pasrah dengan jumlah anggaran yang bakal didapat lantaran harus menyesuaokan dengan kemampuan Pemkab Ngawi.
“Ditambah tahun 2022 kan sudah berjalan, maka kami hanya bisa pasrah dengan besaran anggaran yang nanti disetujui. Jika kurang dari Rp200 juta kan bisa penunjukan langsung atau tidak perlu naik lelang. Rehab bisa lebih cepat,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Ngawi”]
Untuk diketahui, sebagian siswa di SDN 7 Sidolaju tak belajar di ruang kelas. Kelas I belajar di musala lingkungan Desa Sidolaju, Widodaren, Ngawi sementara kelas II dan III belajar di perpustakaan sekolah. Hal itu imbas dari robohnya atap sekolah pada Selasa (19/7/2022) beruntung, saat kejadian tidak ada aktivitas belajar mengajar.
Pantauan beritajatim.com, atap yang roboh merupakan bagian dari ruang kelas I, II, dan III. Tepatnya di ruang kelas III atap sudah roboh. Ruang kelas I dan II masih satu bangunan dan dikhawatirkan bakal ambruk sehingga siswa dipindahkan ke perpustakaan dan musala. Kayu yang menyangga genting masih bagus dan tak terlihat keropos.
Bagian atap tersebut dipasang pada proyek rehabilitasi sekolah pada 2013 lalu. Sehingga, usia bangunan baru sembilan tahun. Bangunan yang ambruk itu pun dipersoalkan oleh wali murid.
Mereka menduga ada kesalahan atau gagal konstruksi sehingga atap sekolah ambruk di usia bangunan yang belum tua dan kayu tidak lapuk. (fiq/beq)






