Pacitan (beritajatim.com) – Penanganan kekeringan di Kabupaten Pacitan tahun ini diprediksi menghadapi tantangan berat. Selain luasnya wilayah rawan terdampak, kesiapan armada dropping air bersih milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan juga belum sepenuhnya optimal.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengatakan keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam proses perbaikan armada tersebut.
“Dua unit siap operasi, dua lainnya perlu perbaikan seperti ban dan aki,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).
Berdasarkan data BPBD Pacitan, pada 2024 terdapat 59 desa yang berpotensi mengalami kekeringan. Sementara pada tahun ini, sedikitnya 34 desa masuk kategori rawan kekeringan. Potensi tersebut mengacu pada pemetaan tahun sebelumnya dengan sebaran mencapai 102 dusun di berbagai wilayah.
Kondisi itu membuat kebutuhan distribusi air bersih diperkirakan kembali meningkat saat puncak musim kemarau nanti. Namun, dari total empat unit mobil tangki milik BPBD, hanya dua unit yang saat ini dalam kondisi siap operasi.
Sementara itu, dua armada lainnya masih membutuhkan perbaikan. Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari ban yang sudah tipis, aki yang tidak lagi optimal, hingga kerusakan mesin berat. Bahkan, satu unit disebut sudah tidak bisa dijalankan.
Selain persoalan armada, BPBD juga menghadapi keterbatasan anggaran belanja tidak terduga (BTT) untuk penanganan bencana kekeringan. Karena itu, pihaknya masih mengandalkan dukungan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, terutama untuk membantu distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
BPBD memperkirakan kebutuhan dropping air bersih mulai meningkat pada Agustus mendatang seiring masuknya puncak musim kemarau. Pola tersebut diprediksi tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, ketika distribusi air bersih melonjak tajam setelah pertengahan musim kemarau.
“Agustus diprediksi menjadi puncak musim kemarau,” tandasnya. (tri/aje)






