Lamongan (beritajatim.com) – PAC GP Ansor Paciran menggelar kegiatan tahlil untuk KH Dimyati Rois, Mustasyar PBNU masa khidmat 2022-2027, yang telah berpulang pada Jumat (10/6/2022) lalu.
Tahlil ini juga ditujukan kepada kepada KH. Luthfi Thomafi, Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor.
Tahlil tersebut dirangkai dalam kegiatan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) GP Ansor, yang bertempat di Madrasah Islamiyah Desa Paloh, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tak hanya itu, dalam kegiatan ini juga dilakukan Pelantikan PR Ansor Paloh masa khidmat 2022-2024.
Seperti diketahui, wafatnya dua tokoh penting NU tersebut tak hanya meninggalkan duka cita yang begitu mendalam bagi keluarga dan sahabat, tapi juga seluruh pihak, khususnya warga nahdliyin dan semua kader Ansor di seluruh Indonesia.
Pada kesempatan ini, Ketua PC GP Ansor Paciran, Hilmi Adib mengatakan bahwa para kader Ansor merupakan garda terdepan NU dalam menjaga dan melestarikan akidah Ahlus Sunnah Waljamaah.
“Sebagai pengurus dan kader GP Ansor, sudah selayaknya kita harus tetap kompak dalam melestarikan dan menjaga akidah Ahlus Sunnah Waljamaah. Ansor juga harus mampu menjaga nama baik Jam’iyah, karena Ansor adalah cerminan dari NU itu sendiri,” ujar Hilmi Adib, usai melantik PR Ansor Paloh.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PC GP Ansor Lamongan, Muhammad Masyhur turut mengungkapkan, proses kaderisasi di Ansor Lamongan terus digalakkan. Ia juga menyebut, kader Ansor tak hanya dituntut untuk terus menimba ilmu, namun juga harus khidmat kepada ulama.
“Al Ilmu bi Ta’allum, wal Barakah bil Khidmah. Maqalah ini mempunyai makna yang mendalam. Jika santri ingin mendapatkan ilmu maka dengan cara belajar, dan jika ingin mendapatkan keberkahan ilmu, maka dengan berkhidmat kepada kiai atau ulama,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”lamongan”]
Masyhur menegaskan, kepandaian saja tak cukup untuk mengarungi bahtera kehidupan ini, dibutuhkan ilmu yang berkah atau bermanfaat, sehingga manusia bisa konsisten berada di jalan lurus dan terus menebar kebaikan di manapun ia berada.
“Berkhidmat terhadap kiai menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan ilmu yang manfaat. Ansor harus selalu dekat dengan kiai dan ulama, baik secara dhohir maupun batin. Semoga kita semua selalu mendapat keridhoan tersebut,” imbuh Masyhur.
Sementara itu, Katib Syuriah PCNU Lamongan, Dr (HC) Syahrul Munir menuturkan, kader Ansor harus memiliki gebrakan program yang inovatif dan adaptif di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi.
Tak cukup itu, pria yang akrab disapa Gus Syahrul ini juga memberikan motivasi kepada para kader Ansor yang baru saja dilantik untuk terus aktif dan sepenuh hati dalam menjalankan roda organisasi. Menurutnya, pengurus ranting adalah ujung tombak dari Ansor itu sendiri.
“Pengurus ranting adalah ujung tombak, karena semua tingkatan struktur organisasi NU mulai dari PB sampai MWC tidak akan dapat berjalan kalau tingkat ranting tidak bergerak,” tutur Gus Syahrul.

Mengenai sosok KH Dimyati yang telah berpulang di usianya yang ke-77 tahun, Gus Syahrul menjelaskan bahwa kiai sepuh asal Kendal Jawa Tengah ini merupakan tokoh NU yang memiliki kontribusi dan pengaruh besar bagi NU.
“Abah Dim ini memiliki pengaruh yang besar. Selain orator ulung, beliau juga telah banyak menorehkan sejumlah prestasi. Beliau juga merupakan sosok yang berhasil dalam bidang kewirausahaan, utamanya pertanian dan perikanan. Banyak yang bisa kita teladani. Tak hanya NU yang kehilangan sosoknya, tapi juga Indonesia,” paparnya.
Sedangkan dengan meninggalnya Gus Luthfi, tambah Gus Syahrul, NU kehilangan sosok yang begitu melekat di jalur pendidikan. Bagi Gus Syahrul, sosok almarhum banyak memberikan teladan bagi kader Ansor, utamanya tentang perjuangan dan kesungguhan dalam meraih cita-cita.
“Semoga pohon berkah yang ditanam oleh kedua tokoh NU ini bisa dimanfaatkan dan dinikmati buahnya oleh para kader hari ini. Yang jelas, berita duka ini sangat mengagetkan. Tokoh NU tersebut adalah sosok yang memiliki pengaruh kuat dalam keberjalanan NU selama ini,” tutupnya.[riq/ted]






