Persebaya Surabaya untuk kali pertama sejak berkompetisi di Liga 1 pada 2018 tumbang di tangan Persija Jakarta. Skor tipis saja 0-1 di Stadion Gelora Joko Samudro, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (5/4/2023) malam. Gol Persija dicetak Witan Sulaiman pada menit 5.
Namun bukan kekalahan itu yang bakal dicatat abadi. Skor itu hanya akan menjadi tambahan data statistik. Angka di atas kertas bisa diperbaiki pada musim berikutnya. Kalah di musim ini, berlatih lebih keras, raih kemenangan di musim berikutnya. Kemenangan dan kekalahan datang silih berganti. Rutin saja bagi sebuah klub sepak bola.
Sejarah akan mencatat 5 April 2023 sebagai momentum rekonsiliasi dua kelompok suporter terbesar di Indonesia: Bonek dan Jakmania. Puluhan orang Jakmania datang ke Surabaya dan bisa menyaksikan langsung dari tribun stadion dengan dijaga para Bonek. Tidak ada kerusuhan setelah pertandingan berakhir, kendati Persebaya tumbang di depan ribuan pendukungnya.
Ini tentu saja kabar baik bagi sepak bola nasional menyusul munculnya kabar buruk berkali-kali, sejak peristiwa Tragedi Kanjuruhan, gagalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U20, hingga kerusuhan beruntun dalam dua pertandingan Liga 1 pada saat Ramadan.
Bonek dan Jakmania adalah kisah panjang perseteruan dalam sepak bola. Saya masih bisa mengingat dengan terang momentum pertama bentrokan kedua kelompok suporter pada Kamis, 4 Oktober 2001. Hari itu Persebaya menghadapi Persija dalam semifinal Liga Indonesia di Gelora Bung Karno. Bonek berada di tribun selatan dan Jakmania berada di sisi utara.
Pertandingan berlangsung sore hari, pukul setengah lima. Sebelumnya tidak ada insiden apapun di luar stadion. Saya dan adik saya membeli kudapan di pedagang kaki lima bersama beberapa orang Jakmania. Kami juga salat asar berjemaah di Masjid Al Bina.
Jujur saja, saat itu saya lebih mewaspadai suporter PSM Makassar. Mereka sempat terlibat bentrokan dengan warga, saat kapal yang ditumpangi lempar jangkar di Pelabuhan Tanjung Perak. PSM akan berhadapan dengan PSMS Medan pada pertandingan jam kedua, sekitar pukul tujuh malam.
Persebaya kalah malam itu. Gol Luciano Leandro dan Antonio Claudio hanya dibalas satu gol oleh Persebaya melalui kaki Uston Nawawi. Dan bentrokan antarsuporter terjadi di luar stadion. Kaca bus angkutan umum yang saya tumpangi menuju stasiun hancur dihajar kayu dan batu oleh Jakmania. Tak hanya ada Bonek di dalam bus, dan itu pengalaman paling menegangkan yang pernah saya alami sepanjang menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion.
Musim berikutnya, ketegangan antara Bonek dan Jakmania agak reda, karena Persija dan Persebaya tak bertemu. PSSI menempatkan mereka di grup wilayah yang berbeda. Apalagi pada musim 2003, Persebaya harus melakoni pertandingan di Divisi I, satu level di bawah Divisi Utama.
Persebaya kembali bertemu dengan Persija dalam kompetisi Liga Indonesia 2004. Pertandingan di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, 16 April 2004, diwarnai bentrokan Bonek dan Jakmania di dalam dan luar arena. Bentrokan itu yang kemudian membuat petugas keamanan melarang Jakmania datang ke Surabaya untuk mendukung Persija dalam pertandingan pekan terakhir di Stadion Gelora 10 Nopember.
Bentrokan lebih parah terjadi setahun berikutnya saat Persebaya menjalani pertandingan Babak Delapan Besar di Jakarta. Tak hanya bentrok dengan Jakmania, Bonek juga berkonflik dengan organisasi kemasyarakatan lokal. Saat itu manajemen Persebaya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pertandingan melawan Persija, dengan alasan ingin memulangkan Bonek agar tak lagi terjadi bentrokan yang berpotensi menyebabkan korban jiwa. PSSI kemudian menjatuhkan sanksi degradasi ke Divisi I untuk Persebaya.
Tahun-tahun berikutnya kedua kelompok suporter itu praktis jarang bertemu. Petugas keamanan di Jawa Timur dan DKI Jakarta melarang Bonek dan Jakmania berada dalam satu tribun, baik di Gelora Bung Karno maupun Gelora 10 Nopember.
Namun permusuhan tak reda, bahkan menjadi perseteruan asimetris karena mereka memiliki aliansi kelompok suporter yang saling berseberangan. Jakmania bergandengan tangan dengan Aremania yang merupakan seteru Bonek, dan Bonek bersekutu dengan Viking Bandung yang merupakan rival Jakmania.
Perseteruan Persebaya melawan otoritas PSSI sepanjang 2011-2016 membuat perseteruan Bonek dengan Jakmania terlupakan sejenak. Alih-alih memikirkan perseteruan itu, Bonek menghadapi dualisme Persebaya. Mereka sibuk berjuang mengembalikan Persebaya yang dinaungi PT Persebaya Indonesia untuk kembali diakui dan menyingkurkan Persebaya versi PSSI dari Surabaya.
Ini krisis terhebat yang dialami Persebaya sepanjang sejarah sepak bola Indonesia pasca kemerdekaan. Dalam situasi ini, Jakmania memberikan jalan untuk Bonek datang dan berunjuk rasa di Jakarta, saat PSSI menggelar kongres di Ancol pada 2016. Setelah itu hubungan Bonek dan Jakmania mulai membaik. Ratusan Jakmania yang bertandang ke Madura dan Lamongan disambut baik.
Kisah Dio Alif dan Rizky Febrianto menjadi wajah hubungan bak itu. Dio, seorang Bonek, menjemput dan menjamu Rizky, seorang Jakmania, yang ingin menyaksikan pertandingan Persija di Lamongan. Persahabatan keduanya terjaga hingga maut memapak mereka dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Surabaya, 21 Mei 2018.
Rekonsiliasi akan terjadi jika saja tak ada bentrokan di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, Minggu (3/6/2018). Hari itu Ramadan, dan entah bagaimana pangkal ceritanya, kedua kelompok suporter baku pukul di sekitar stadion. Padahal sebelumnya tak ada tanda-tanda bakal terjadi benturan.
Hubungan kedua kelompok kembali renggang setelah itu, dibumbui kisah pemukulan terhadap Ahmad Siroj Fadluloh, anak Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nachrawi yang juga Bonek, saat menyaksikan pertandingan Persebaya melawan Persija, di Stadion PTIK Jakarta, Selasa (26/6/2018).
Kerusuhan di Bantul dan insiden di PTIK membuat rekonsiliasi kedua kelompok suporter seperti ilusi. Namun di luar sepengetahuan publik, beberapa komunitas Bonek dan Jakmania menjalin komunikasi intensif. Slogan Bonjak yang merupakan akronim dari Bonek-Jakmania mulai terdengar walau masih sayup-sayup. Sebagian besar komunitas kedua kelompok masih belum menghapus ketidaksukaan satu sama lain.
Peristiwa Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 yang menelan korban jiwa 135 orang mengubah konstalasi dunia suporter. Hampir di semua kelompok suporter mulai muncul kesamaan sikap untuk mengakhiri permusuhan, termasuk Bonek dan Jakmania. Namun mereka belum menemukan momentum yang tepat untuk merealisasikan rekonsiliasi itu di stadion.
Ini hanya soal waktu sebenarnya. Komunikasi dan hubungan baik antar dua kelompok semakin terlihat di media sosial. Terakhir, Bonek Jakarta dan Jakmania Garis Keras melakukan kegiatan bagi takjil bersama dengan memakai atribut masing-masing di Jakarta, beberapa hari sebelum pertandingan Persebaya melawan Persija. “Panjang umur hal-hal baik. Sajete Wani,” kata Irlan Alarancia, dedengkot Jakmania Garis Keras, di akun media sosialnya.
Puncaknya adalah kedatangan puluhan Jakmania di Surabaya untuk menyaksikan langsung pertandingan Persebaya melawan Persija di stadion. Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya Komisaris Besar Pasma Royce memberikan lampu hijau. “Kalian duta perdamaian,” katanya kepada rombongan Jakmania di Stasiun Pasar Turi, Selasa (4/4/2023) malam jelang dini hari.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga mendukung rekonsiliasi itu. “Di luar lapangan, permusuhan jangan dibiarkan abadi. Saling respek. Saling menjaga. Itulah kunci kita bangun tradisi baru,” katanya, di akun Instagramnya.
Bonek sendiri serius mempersiapkan penyambutan dan penghormatan untuk Jakmania. “Semua komunitas tribun solid,” kata Husin Ghozali, salah satu tokoh Bonek, kepada saya.
Bonek tak hanya mengawal Jakmania, tapi juga bus tim Persija Jakarta, termasuk saat berangkat ke stadion untuk mencoba lapangan. Namun ujian terberat adalah pada saat Hari-H pertandingan. Banyak yang khawatir kerusuhan bakal pecah, saat Persebaya kalah.
Persebaya memang kalah. Namun kerusuhan tidak pernah pecah. Bonek berhasil melewati ujian terberat mereka dengan baik. Tim Persija berangkat ke stadion dan kembali ke hotel dengan menggunakan bus, bukan kendaraan taktis kepolisian. Tak ada lemparan. Tak ada teror.
“Menepikan sejenak hasil pertandingan malam ini, ada kabar baik yang harus kita sebarkan. Macan Kemayoran jadi saksi bahwa perubahan untuk sepak bola yang lebih baik itu nyata adanya,” akun Twitter resmi Persija Jakarta mengabarkan hal itu.
Kabar baik dari Gresik ini hanyalah satu bab dari buku besar cerita perjalanan sepak bola Indonesia. Kita yakin tak selamanya yang buruk hadir di lapangan hijau. Kebajikan selalu menemukan jalan di antara orang-orang yang percaya.
Dan seperti yang ditulis Eri Cahyadi di akun Instagramnya: ‘Di alam sana, Dio dan Rizky kini sudah tersenyum, melihat semuanya rukun dalam persahabatan. Alfatihah’. [wir]






