Madiun (beritajatim.com) – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Madiun terus gencar memberikan edukasi terhadap ibu hamil (bumil) ibu menyusui (busui). Selain menyusui langsung membuat keuangan jadi hemat, banyak sekali manfaat air susu ibu (ASI) bagi ibu dan bayi.
Pun, pemberian ASI disarankan untuk diberikan langsung. Jika terpaksa harus memerah ASI, maka pemberiannya pun disarankan menggunakan alat selain dot agar bayi tidak bingung puting atau bayi menolak menyusu ke ibunya.
Ketua AIMI Madiun Agnes M. Natalenda bercerita, ada banyak hal yang disampaikan saat mengedukasi bumil dan busui. Ada banyak ibu-ibu yang mengalami kendala saat menyusui. Ada pula yang tidak percaya diri karena bentuk payudara dan puting susu.
“Jadi kami berikan edukasi ya. Siapapun ibu pasti bisa menyusui. Kami mencoba tilik permasalahannya. Ada yang bisa langsung selesai via chat, ada yang memang perlu konsultasi langsung ketika ada kondisi tertentu yang dialami oleh ibu,” kata Agnes saat ditemui di Sekretariat AIMI Madiun, Jalan Diponegoro Nomor 33 Kota Madiun, Senin (31/7/2023)
Seperti semisal ketika ada yang kesulitan menyusui karena payudara bengkak. Kondisinya harus dicek langsung apakah karena bengkak biasa atau sudah infeksi.
“Karena ada kondisi dimana payudara bengkak yang dialami ibu ternyata sudah sampai ke kondisi mastitis, ada pula yg sudah abses payudara sehingga perlu tindakan langsung yaitu kami sarankan untuk konsultasi ke dokter spesialis bedah yang pro ASI. Kejadian-kejadian seperti inilah yang kami ingin antisipasi,” lanjut wanita yang bekerja sabagai tenaga kesehatan di salah satu RS swasta di Kota Madiun itu.
Baca Juga: Antisipasi Kelangkaan Elpiji 3 Kg, Segini Tambahan untuk Madiun Raya
Agnes dan para konselor AIMI Madiun pun kerap memberikan edukasi pada ibu hamil trimester ketiga (usia kehamilan 7 bulan hingga 9 bulan). Mereka adalah calon ibu yang harapannya ketika ada kendala terkait ASI dan menyusui sudah mendapatkan pengetahuan tentang ASI pada saat hamil.
“Sehingga kemungkinan terjadinya mastitis dan abses payudara bisa berkurang bahkan tidak terjadi pada ibu menyusui. Konselor di AIMI Madiun itu ada lima orang termasuk saya,” lanjutnya.
Selain itu, dengan ASI eksklusif, ibu bayi juga bisa menghemat pengeluaran. Mereka bisa jadi tak membeli susu formula. Alhasil, bisa lebih hemat.
“Karena susu formula itu beresiko ya. kami sampaikan juga saat edukasi. Kami berikan juga penjelasan resiko apa saja yang timbul jika memberikan susu formula. Tapi, untuk keputusan tetap kami kembalikan ke masing-masing ibu dan keluarga,”kata Agnes.
AIMI Madiun terbentuk pada 19 Januari 2020. Hingga kini sudah ada 100 lebih anggota AIMI Madiun yang tersebar di Kota dan Kabupaten Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, hingga Pacitan.
Lakukan Edukasi Sampai ke Kantor untuk Ibu Bekerja

Selain melakukan kelas secara online, AIMI Madiun sempat melakukan edukasi ke kantor. Terakhir, mereka mengedukasi anggota Dharma Wanita di Kantor PDAM Madiun pada Maret 2023 lalu. Alhasil, banyak pula ibu-ibu yang bertanya pada mereka dan bahkan bergabung menjadi anggota.
Mengedukasi ibu yang bekerja sangat penting. Khsusunya, bagi yang masa cutinya sudah usai. Ibu yang bekerja bisa jadi stress atau kelelahan karena pekerjaannya. Pun, AIMI hadir agar ibu yang mengalami permasalahan terdebut tetap termotivasi dan semangat memberikan ASI eksklusif.
Bendahara AIMI Madiun, A.S.A. Dita mengatakan dia pernah mengalami masa itu. Dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Madiun itu mengaku sempat memerah ASI di tempat bekerja.
“Saya pernah mengalami ya. Saya sudah selesai cuti, dan saya harus memberikan ASI untuk anak saya. Sehingga, edukasi ke kantor ini penting sekali. Utamanya, bagi orang-orang lingkungan kerja si ibu bayi agar memberikan dukungan,” kata Dita.
Baca Juga: Soal Pembongkaran Tugu Perguruan Silat, Walikota Madiun: Nanti Dibicarakan
Menurut pengalamannya, sebelum pemerintah mengharuskan ada ruang laktasi di tempat umum, dia pernah meminta dukungan langsung pada dekan di kampus tempatnya bekerja. Dia hanya ingin diperbolehkan mojok untuk memerah ASI.
“Tapi untungnya dikasih kelonggaran ya. Saya diperbolehkan pulang untuk menyusui anak. Kebetulan rumah saya gak jauh gitu. Ini yang kami harapkan terjadi juga di lingkungan ibu bayi yang bekerja. Kami harap pemegang kebijakan di tempat mereka bekerja memberikan kelonggaran untuk ibu menyusui,” kata Dita.
Selain itu, mereka juga mengedukasi para pengasuh anak dari ibu yang bekerja. Utamanya, dalam memberikan ASI yang sudah diperah pada bayi. Mereka menyarankan penggunaan alat lain selain dot.
“Alat selain dot yang disarankan yakni gelas sloki, sendok, hingga sedotan. Agar bayi tidak bingung puting. Sehingga, mereka tetap mau menyusu ke ibunya langsung ketika si ibu sudah selesai bekerja,” kata Dita.
Mereka mengharap, agar bumil, busui, hingga calon pengantin bisa teredukasi. Mereka mempersilakan siapa saja untuk bertanya langsung ke AIMI. Baik berkonsultasi terkait ASI hingga tumbuh kembang anak.
“Ya harapannya bisa bergabung dengan kami, sehingga mereka bisa on the track dan memilih ASI sebagai pemberian nutrisi pada anak-anak mereka,” pungkasnya. [fiq/ted]






