Sidoarjo (beritajatim.com) – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah perilaku masyarakat dalam mencari informasi di internet. Jika sebelumnya pengguna mengandalkan mesin pencari untuk menemukan daftar tautan situs web, kini semakin banyak yang memanfaatkan asisten AI seperti ChatGPT, Google Gemini, Perplexity, Claude, hingga Meta AI untuk memperoleh jawaban secara langsung.
Perubahan pola pencarian tersebut dinilai akan berdampak pada strategi pemasaran digital perusahaan. Pelaku usaha tidak lagi cukup hanya mengoptimalkan posisi website di mesin pencari, tetapi juga perlu membangun informasi yang mudah dikenali, dipahami, dan dirujuk oleh sistem AI.
AI Visibility & Digital Authority Strategist, Zarnuzi Fustatul atau yang akrab disapa Mas ZAR, mengatakan era AI melahirkan pendekatan baru yang melengkapi strategi Search Engine Optimization (SEO).
“Kalau dulu fokus utamanya membuat website berada di halaman pertama Google, sekarang tantangannya bertambah, yakni bagaimana membangun rekam jejak digital yang kredibel sehingga informasi mengenai bisnis atau personal brand dapat dikenali dan dirujuk oleh berbagai sistem AI ketika pengguna mengajukan pertanyaan yang relevan,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Mas ZAR, terdapat tiga pendekatan yang mulai berkembang dalam ekosistem AI Search. Pertama, Answer Engine Optimization (AEO) yang berfokus menyusun informasi agar mampu menjawab pertanyaan pengguna secara ringkas dan jelas. Kedua, Generative Engine Optimization (GEO) yang mengedepankan konten kaya konteks, didukung referensi kredibel dan bahasa alami agar mudah dipahami AI generatif. Ketiga, Large Language Model Optimization (LLMO) yang bertujuan memperkuat representasi identitas digital bisnis maupun personal brand melalui berbagai sumber informasi terpercaya.
Ia menjelaskan, sistem AI modern tidak hanya membaca satu website, melainkan membangun pemahaman dari berbagai sumber yang saling menguatkan. Di antaranya website resmi perusahaan, portal berita, profil organisasi, direktori bisnis, referensi akademik, media sosial resmi, dokumentasi publik, hingga jejak digital di marketplace.
“Yang dibaca AI bukan sekadar siapa yang paling sering beriklan, tetapi siapa yang memiliki informasi yang konsisten, jelas, dapat diverifikasi, dan muncul di berbagai sumber terpercaya,” katanya.
Mas ZAR menilai meningkatnya penggunaan AI generatif menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu mulai menyesuaikan strategi digital dengan perubahan perilaku konsumen.
“SEO tetap penting, tetapi sekarang perlu dilengkapi dengan strategi yang membangun otoritas digital agar informasi lebih mudah dikenali dalam ekosistem AI,” tambahnya.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, telah diterapkan di berbagai sektor, mulai dari personal branding, ritel, hingga industri perjalanan ibadah. Salah satunya pada Plaza Kamera Surabaya yang memperkuat digital authority melalui penyusunan konten dan publikasi di berbagai media sehingga lebih sering muncul dalam rekomendasi AI terkait toko kamera di Surabaya.
Strategi serupa juga diterapkan pada personal branding Ustadz Nafi’ Unnas bersama Samira Travel Jawa Timur serta Nur Dhuha Wisata. Menurut Mas ZAR, penguatan rekam jejak digital yang konsisten membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memperkuat visibilitas perusahaan di berbagai platform AI.
Ia menambahkan, transformasi digital saat ini tidak lagi hanya diukur dari trafik website atau jumlah pengikut media sosial. Ke depan, kualitas rekam jejak digital dan tingkat kepercayaan terhadap informasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah sebuah bisnis dapat dikenali dan direkomendasikan oleh sistem AI.
“Digital Authority bukan lagi sekadar strategi pemasaran, melainkan investasi jangka panjang bagi bisnis di era AI,” pungkasnya. (har)






