Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Sub-Direktorat Penerimaan dan Kelulusan Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Dr Sukarmin meminta kepada peserta UTBK memahami skema dan komponen tesnya.
Sukarmin juga berpesan kepada pendaftar di Unesa agar belajar dan latihan menjawab soal. Ia pun membagikan sejumlah perbedaan yang perlu diketahui oleh para peserta UTBK.
Pertama, istilah sosial dan humaniora (soshum), sains dan teknologi (saintek) tahun ini sudah tak dipakai lagi. Artinya, seluruh peserta memiliki peluang sama dengan tes yang sama.
Kedua, materi tes tahun ini menggunakan tes potensi skolastik (TPS), bukan tes potensi akademik (TPA). Adapun TPS tersebut terdiri dari 4 komponen, antara lain penalaran umum, pemahaman bacaan dan menulis, pengetahuan dan pemahaman umum, dan pengetahuan kuantitatif.
Sukarmin menyampaikan, bahwa pengetahuan kuantitatif berbeda dengan penalaran kuantitatif. Secara umum, pengetahuan kuantitatif merupakan sekumpulan pengetahuan matematika termasuk kemampuan untuk melakukan perhitungan matematika.
Baca Juga:
Rektor Unesa Tawari Rian Beasiswa Kuliah S-2
“Sementara penalaran kuantitatif lebih mengarah pada kemampuan untuk menalar secara induktif dan deduktif dalam memecahkan masalah berupa angka,” jelasnya.
Selain TPS, lanjut Sukarmin, UTBK 2023 juga memiliki komponen tes literasi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tes ini berfokus pada literasi membaca atau kemampuan peserta dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merenungkan dan berinteraksi secara aktif dan berkelanjutan dengan teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan dan potensi.
“Ada dua tolak ukur utama peserta dalam membaca dan membangun makna bacaan yaitu, kompetensi kebahasaan dan strategi kognitif,” kata Sukarmin.
Baca Juga:
Sidang Skripsi, Punggawa Timnas Ini Dicecar Rektor Unesa hingga Zainudin Amali
Ia menambahkan, dalam tes literasi juga sub komponen penalaran matematika. Secara operasional aspek penalaran ditunjukkan dengan pengalaman individu dalam menyelesaikan masalah-masalah matematis di berbagai konteks atau hal-hal yang membatasi cara meninjau permasalahan tersebut.
Ada dua hal yang ditekankan dalam penalaran matematika, yaitu penggunaan konsep matematika dalam mengatasi masalah dalam sebuah konteks dan penggunaan pengalaman di dalam kelas untuk mengatasi masalah.
Ditegaskan Sukarmin bahwa materi soal tahun ini dibuat sama apakah itu untuk peserta yang ketika SLTA dari IPA, IPS atau bahasa atau bahkan dari SMK teknik. “Semua bobot soalnya sama,” jelas Sukarmin. [ipl/beq]






