Jombang (beritajatim.com) – Pemkab Jombang saatnya meninggalkan kebanggaan menerima penghargaan. Karena hal itu tidak menjadi acuan generasi milineal yang jumlahnya dominan di kota santri.
Kritikan itu disampaikan Yusron Aminulloh menyikapi dua penghargaan yang diterima Kabupaten Jombang dalam satu bulan terakhir ini. Pertama penghargaan kabupaten peduli HAM dari Menkumham Yasonna H. Laoly. Kemudian kedua penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2018 untuk kategori utama dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak.
\\\”Masyarakat tidak bangga dengan penghargaan, tapi lebih bangga dengan pelayanan maksimal aparat pada rakyatnya dan inovasi pemimpinya,\\\” tegas Yusron Aminulloh, penggagas Forum Masyarakat Jombang Berdaya, menanggapi sejumlah penghargaan yang diterima pemkab tersebut.
Yusron menggambarkan, soal penghargaan tingkat provinsi, nasional bahkan penghargaan dunia, hanya menjadi kebanggan seremoni dan waktunya terbatas.
Sebulan dua bulan, seminggu dua minggu, sehari dua hari akan dirasakan.
\\\”Tapi pelayanan prima, kreativitas dan inovasi pemimpin, keberpihakan pemimpin, daya juang pemimpin untuk menyejahterakan masyarakat, waktu menikmatinya tidak cukup satu dua hari, satu dua bulan, namun bisa setahun dua tahun bahkan mampu bertahan puluhan tahun,\\\” tegas Yusron yang juga Direktur Pendidikan SMK Global Jombang ini.
Jadi, lanjutnya, pemimpin Jombang duet Mundjidah – Sumrambah, saatnya meninggalkan pola mainstream, bangga dengan penghargaan. Bagi Yusron, pemimpin baru Jombang harus menjadi motivator bagi rakyatnya, menjadi inspirator generasi milinial sehingga mereka merasa terlibat dalam pembangunan
\\\”Sudah saatnya medsos digunakan untuk menjaring aspirasi masyarakat. Tukar gagasan antar anak-anak muda. Masa depan Jombang ada ditangan mereka,\\\” tambahnya.
Yusron yang juga Dirut DeDurian Park Wonosalam Jombang ini mengajak Pemkab Jombang tidak malu belajar pada Banyuwangi yang memiliki puluhan event nasional dan internasional setiap tahunnya. Sehingga hal itu berdampak luas pada peningkatan ekonomi masyarakat secara langsung.
\\\”Jombang harus belajar ke Gunung Kidul, yang dulu dikenal kabupaten miskin. Tapi kini jadi mercusuar wisata nasional. Pemda membuka diri atas gagasan rakyat, memberi kemudahan investor mengembangkan wisata. APBD Gunung Kidul digelontorkan ke infrastrukur sehingga jalan menuju area wisata mulus dan lebar,\\\” tegas Yusron.
Menurut Cak Yus, panggilan akrab Yusron, produk Jombang melimpah, akan tetapi promo yang dilakukan masih artifisial \\\”Saatnya anak anak muda diberi wadah membuat produk Jombang. Jadikan mereka bangga dengan produk dan karya mereka sendiri,\\\” pungkasnya. [suf/ted]





