Surabaya (beritajatim.com) – Pilpres 2019 yang digelar berbarengan dengan Pileg menjadikan fenomena politik yang sedikit unik. Ketimbang memberikan endorse kepada para Capres dan Cawapres, para Caleg masih sibuk mempromosikan diri mereka sendiri.
Pendapat diatas diungkapkan oleh pakar politik asal Unair Kris Nugroho pada Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) di Unair, Jumat (21/12/2018).
\\\”Para Caleg masih berusaha menguatkan personal electability, mereka belum melakukan endorse Capres karena takut mendapatkan penolakan di masyarakat,\\\” kata Kris Nugroho.
\\\”Mereka lebih memilih untuk menguatkan layanan personal kepada para konstituen mereka di dapil masing-masing,\\\” tambahnya.
Tak berhenti sampai di situ, menurut Kris, para Parpol pun juga cenderung melakukan hal yang sama. \\\”Bukan hanya para Caleg, partai pun kalau selain yang sudah memiliki garis politik jelas belum melakukan endorse terhadap para Capres\\\” tegas Kris Nugroho.
Menanggapi fenomena itu, Pemimpin Redaksi beritajatim.com Dwi Eko Lokononto yang turut hadir pada diskusi itu menjadikan strategi berbeda diterapkan oleh para parpol. Sayangnya, belum ada narasi politik kuat yang muncul.
\\\”Fenomena ini menjadikan beberapa partai menggunakan strategi berbeda dalam menghadapi pemilu 2019. Di media sosial, tidak damai tentram. Lebih gencar proses yang terjadi melebihi Pilgub Jatim kemarin. Kedua calon sibuk mengaduk emosi para pemilih ketimbang membangun narasi,\\\” pungkas pria yang akrab disapa Luki itu. [ifw/suf]





