Ponorogo (beritajatim.com) – Paling cepat tujuh tahun, pertanian di Ponorogo akan menjadi seluruhnya organik dan bebas dari pupuk kimia. Kawasan dan hasil pertaniannya bakal berubah menjadi sesuatu yang lebih ramah terhadap lingkungan.
\\\”Itu paling cepat ya, tujuh tahun menuju murni organik,\\\” ungkap Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Kamis (20/12/2018).
Ipong menyatakan, Ponorogo telah memulai program organik ini pada 2017. Caranya dengan memberikan bantuan pupuk organik kepada petani. Cara ini berlanjut di 2018 dengan lebih banyak petani yang mendapatkan pupuk organik.
Pemakaiannya bergantian dengan pupuk kimia subsidi dari pemerintah. Harapannya, sedikit demi sedikit, dosis dan pemakaian pupuk kimia berkurang di sisi lain dosis dan pemakaian pupuk organik meningkat.
\\\”Kalau dosisnya pelan-pelan dinaikkan maka bisa tercapai full organik. Kalau hanya 25 persen (porsi pupuk organik dalam pemupukan) seperti sekarang ini, ya sampai 15 tahun pun ya akan semacam ini saja kondisinya. Tapi, setidaknya kondisi tanah akan lebih baik,\\\” kata Ipong.
Politisi Partai Nasdem ini menerangkan, untuk menuju pertanian yang murni organik ada sekurang-kurangnya dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, sumber air atau air yang mengairi sawah harus terbebas dari bahan kimia. Kedua, pupuknya harus pupuk yang tidak ada campuran kimianya.
\\\”Itu yang bisa dilakukan kalau di Ponorogo ada dua tempat. Yaitu di Kecamatan Sooko dan Kecamatan Pudak. Di sana airnya masih alami,\\\” ujarnya.
Di luar persoalan teknis bertani, ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian. Persoalan tersebut adalah masih adanya petani yang belum menjadi anggota kelompok tani. Baik karena memang tidak mau bergabung dengan kelompok tani karena satu dan lain hal di lingkungannya, atau pun menjadi anggota kelompok tani tapi tidak diikutkan program karena intern kelompok tani tidak rukun.
Meski terlihat sepele, namun hal ini bisa jadi masalah. Menurutnya, keguyuban diperlukan dalam menyokong sebuah program seperti pengembangan pertanian ramah lingkungan agar seluruhnya berubah atau beralih menuju organik.
\\\”Kalau mau 100 persen organik tapi ada yang tidak ikut program, maka ya tidak bisa tercapai. Maka saya tekankan dan sudah saya pesankan ke petani agar menjaga keguyuban itu. Ajak berkelompok dengan baik agar seluruhnya bisa bekerja sama,\\\” pungkas Ipong. [dil/suf]





