Banyuwangi (beritajatim.com) – Tempat hiburan malam di Banyuwangi masih tersaji menarik. Baik di tengah kota maupun jauh di pinggiran Kota Gandrung ini.
Di Banyuwangi tercatat masih terdapat sejumlah tempat hiburan malam yang aktif beroperasi. Mulai sekedar warung kecil lengkap dengan pemandu lagunya, hingga yang sedikit mewah lengkap dengan berbagai minuman
kerasnya.
Sebut saja tempat hiburan malam di pinggiran pantai tepatnya di Jalur Pantura Banyuwangi – Situbondo, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Namanya cukup terkenal di kalangan warga Banyuwangi. Tempat itu adalah Warung
Panjang.
Di lokasi ini sedikitnya ada belasan rumah yang menyajikan tempat bersambung rasa. Disebut warung panjang, mungkin karena bentuknya yang memanjang.
Ukurannya beragam. Ada yang sekitar 5×12 meter ada juga 4×10 meter. Ruangannya sempit, tersekat-sekat. Biasanya ruangan itu dibagi dengan ruang tamu plus tempat karaoke.
Di sisi pojok, dilengkapi toilet dan dapur kecil. Ada juga dengan beberapa kamar yang biasa digunakan untuk menginap para pemandu lagu. Tapi ada pula ruangan yang hanya disekat oleh kain kelambu.
Dari beberapa tempat itu, ternyata ada sejumlah wanita yang menempati. Mereka merupakan pemandu lagu yang dipekerjakan oleh pemilik warung.
Saat malam, jumlahnya ada puluhan wanita lengkap dengan make up menor dan busana seadanya. Asal mereka juga beragam. Mulai dari yang lokal Banyuwangi
hingga berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur.
Ada yang dari Jember, Situbondo, Lumajang atau Surabaya.
Kebetulan beritajatim.com menemui wanita berinisial SDR. Dia asli warga lokal asal Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.
SDR sudah 9 bulan bekerja di salah satu warung tersebut. Ia mengaku menghabiskan malamnya di tempat itu lantaran menjanjikan rejeki.
beritajatim.com : Sudah lama kerja di situ mbak?
SDR : Sudah 9 bulan.
beritajatim.com : Kenapa tiba-tiba mau kerja di situ?
SDR : Awalnya diajak temen. Karena di rumah nganggur jadi saya mau. Ternyata kerjanya enak.
beritajatim.com : Lho awalnya kerja apa?
SDR : Ibu rumah tangga.
beritajatim.com : berarti sampean bersuami?
SDR : Tidak saya sudah cerai.
beritajatim.com : Apa enaknya kerja di situ? Sebenarnya kerjanya ngapain?
SDR : Asyik aja. Kerjanya cuma menemani kalau ada orang nyanyi gitu.
beritajatim.com : Kalau kerja itu gajinya gimana?
SDR : Jadi sekali menemani itu kita dapat Rp 100 ribu. Itu kalau menemani saja, belum lagi uang botol.
beritajatim.com : Rp 100 ribu itu setiap orang ya? Nggak dipotong sama pemilik warung?
SDR : Nggak. Itu buat kita.
beritajatim.com : Jadi kalau semalam itu bisa dapat berapa?
SDR : Biasanya perjam itu Rp 100 ribu tadi, tapi ada lebih kalau mau paketan. Semalam itu bisa tiga kali ganti klien.
beritajatim.com : Berarti semalam dapat Rp 300 ribu?
SDR : Ya, tapi kita dapat tambahan dari uang botol itu sebulan bisanya Rp 900 ribu bisa lebih.
beritajatim.com : Tiap malam kerja mulai jam berapa sampai jam berapa?
SDR : Jam 8 malam sampai Jam 11 malam, paling mentok sampai Jam 12 malam. Sekarang susah dibatasi, kalau dulu loos..
Dari percakapan itu bisa dibayangkan raupan rupiah yang didapat oleh para pemandu lagu itu. Jika semalam Rp 300 ribu ditambah Rp 900 ribu sebulan, hasilnya Rp 9,9 juta sebulan. Cukup menggiurkan bukan?
Walau demikian, profesi sebagai pemandu lagu ini tak segaris dengan aturan. Sehingga mereka kerap kali berurusan dengan penegak perda yang mendatanginya.
Belum lagi, pekerja pemandu lagu juga kerap dicap sebagai wanita penghibur. Lebih dari itu, mereka juga dipandang rendah karena seolah menjajakan
pemuas nafsu para pria hidung belang.
SDR adalah satu diantara wanita pemandu lagu yang dirazia petugas gabungan Polri, TNI dan Satpol PP Banyuwangi, Sabtu (29/12/2018). Ia digelandang
oleh petugas lantaran tak mampu menunjukkan identitas.
Ia juga senasib dengan puluhan kawan seprofesinya yang dipaksa harus meninggalkan lokasi itu. Mereka juga dilarang datang kembali oleh petugas. Terutama bagi pemandu lagu yang berasal dari luar daerah, petugas memintanya untuk pulang kampung. (rin/ted)





