Ponorogo (beritajatim.com) – Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi RI menargetkan mampu mengentaskan ribuan desa yang saat ini dalam kondisi tertinggal. Pada lima tahun mendatang, jumlah Desa Mandiri dipastikan berjumlah 10 ribu desa.
Sekjen Kemendes PDTT RI Anwar Sanusi mengatakan, UU nomor 6 tahun 2015 telah berjalan sesuai garisnya. Sebagai hasilnya, saat ini telah terlihat ada perubahan perwajahan desa secara signifikan. Kata \\\’desa\\\’ yang semula seolah-seolah merupakan konotasi hal-hal penuh keterbelakangan kini telah berubah menjadi kata yang konotasinya lebih baik, lebih maju.
\\\”Pada 10 Desember lalu, BPS telah mengeluarkan data yang merupakan hasil karya para perangkat desa tentang perubahan desa. Yaitu, pada 2015, 60 persen desa di Indonesia (74 ribuan) dalam kondisi tertinggal. Nah, ternyata pada 2018 ini ada sekitar 6.600 desa yang lepas dari kemiskinannya,\\\” ujarnya.
Karena itu, pihaknya optimistis, pada lima tahun mendatang akan muncul 10 ribu desa mandiri. Desa mandiri merupakan rujukan untuk desa berkembang atau yang lepas dari kemiskinan. \\\”Target kita dalam lima tahun ada 5 ribu desa mandiri. Ternyata dalam waktu tiga setengah tahun muncul 2.660 desa mandiri. Dalam lima tahun lagi kami yakin ada 10 ribu desa mandiri,\\\” ungkap Anwar Sanusi.
Hal ini cukup beralasan karena pemerintah terus berniat memperkuat keuangan desa. Terbukti dari anggaran Dana Desa yang selalu ditingkatkan dari tahun ke tahun. Di 2019, total DD akan menjadi Rp 70 triliun atau naik sekitar Rp 10 triliun dari alokasi tahn ini yang sebesar Rp 60 triliun.
Anwar juga menyebut, Presiden Joko Widodo juga telah memberikan arahan agar sumber daya manusia (SDM) di pedesaan semakin ditingkatkan. Bila perlu para kadesnya diajak studi banding ke luar negeri. Hal ini agar mereka bisa melihat pengelolaan desa-desa di negara-negara maju sehingga bisa diduplikasi di desanya masing-masing.
\\\”Jadi kita optimistis bisa mencapai 10 ribu desa mandiri itu pada waktunya,\\\” tukasnya. [dil/suf]





