Surabaya (beritajatim.com) – Pengembangan sumber daya manusia di industri hulu migas di Jawa Timur masih sangat terbuka lebar. Namun, perlu sinergi dan komitmen dari berbagai pihak untuk mewujudkannya.
Itulah salah satu poin penting dari diskusi yang menghadirkan Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Hirman Estu Bagijo, Pakar Perburuhan Hadi Subhan, dan Vice President Public and Goverment Affairs ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) Erwin Maryoto.
Diskusi Ruang Ide Jawa Pos di Hotel Majapahit, Surabaya, kemarin (19/12) merupakan hasil kerja sama dengan SKK Migas dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) itu mengangkat tema Peningkatan SDM Dalam Mewujudkan Tenaga Kerja Yang Berkualitas di Dunia Industri Hulu Migas.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Jatim Setiajid menuturkan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang berpotensi migas besar. Untuk itu, perlu menyiapkan sumber daya manusia yang berkompeten. Industri hulu migas di Jawa Timur merupakan salah satu penyumbang PDRB besar di Jatim.
’’Untuk itu, kami harap pertumbuhan kesiapan sumber daya manusia khususnya di migas ini bisa semakin bagus. Semoga, Jatim punya universitas yang memberikan pendidikan berhubungan dari migas. Itu harapan besar kami,” paparnya saat membuka Ruang Ide.
Sementara Kepala Dinas ketenagakerjaan Dan Transmigrasi Himawan Estu Bagijo memaparkan sekitar 60 persen pekerja di Jatim merupakan tamatan SD–SMA. Artinya, mereka tidak memiliki skill.
’’Untuk itu, Pakde Karwo punya cara melalui SMA double track. Agar output mereka memiliki keterampilan dan soft skill. Selain itu, kita perbanyak pelatihan dari yang awalnya 240 jam menjadi 480 jam. Guna memberikan pelatihan soft skill,” ujarnya.
Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar memaparkan SKK Migas yang bertugas mengawasi dan mengontrol 32 perusahaan migas yang ada di Jabanusa berkomitmen mengembangkan tenaga kerja di sektor hulu migas.
Salah satunya lewat program pertukaran tenaga kerja ke luar negeri dan job training. Dengan program itu diharapkan bisa ada transfer knowledge.
Ada pula job swaping dan internasionalisasi atau pengakuan dari pusat. ’’Agar pekerja kita punya kemampuan yang sama dengan tenaga kerja asing dan diakui oleh kantor pusat sehingga bisa ada kemungkinan pekerja kita bisa kerja di pusat perusahaannya,” ujarnya.
Sementara itu, Vice President Public and Goverment Affairs ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) Erwin Maryoto menuturkan bahwa saat ini EMCL memiliki 550 tenaga kerja. Meski memiliki tenaga kerja yang terbatas namun EMCL Banyu Urip mampu menghasilkan 220 ribu barel per hari.
Karena bagi EMCL, lanjut Erwin, tenaga kerja di EMCL merupakan aset yang perlu terus dikembangkan.
Dalam hal pengembangan SDM, EMCL memiliki kurikulum global. Kurikulum itu berfungsi agar seluruh SDM yang ada di EMCL memiliki skill dan kemampuan yang sama dengan SDM ExxonMobil di seluruh dunia.
’’Dalam hal rekrutmen misalnya. Kami mencari SDM yang memiliki karakter, kemampuan berpikir, dan memiliki endurance,” ujarnya.
Dipaparkan, dari 550 tenaga kerja EMCL, beberapa di antaranya ada yang merupakan lulusan SMA dan SMK.
’’Waktu itu kami rekrutmen pada 2008. Setelah perekrutan ketat kami memberikan mereka training. Lalu kita sebar mereka ke berbagai negara. Setelah beberapa tahun bekerja di luar negeri dan Lapangan Banyu Urip jadi, mereka kembali dan menjadi teknisi andal dan mereka adalah anak-anak asli Jawa Timur,” paparnya.
Tak hanya pengembangan SDM internal, EMCL kerap memberikan program pengembangan SDM kepada masyarakat sekitar. ’’Kami juga melakukan pelatihan-pelatihan di sekitar. Harapannya mereka bisa menjadi entrepreneur dan membuka lapangan kerja baru,” ujar Erwin.
Di samping itu, Pakar Perburuhan Jawa Timur Hadi Subhan menuturkan bahwa untuk memenuhi tenaga kerja berkualitas, harus punya dua syarat yaitu pendidikan yang link and match dan kompetensi yang sesuai dengan industrinya. Jika dua hal itu terpenuhi, maka tenaga kerja tersebut bisa dikatakan sebagai tenaga kerja yang berkualitas.
’’Namun hal ini tidak kita temui di sini. Di industri migas misalnya, Jatim sendiri tidak ada jurusan perminyakan atau sejenisnya. Padahal di Jatim ini merupakan titik pusat sumber minyak,” paparnya.
Dia pun mengamati bahwa EMCL sudah melakukan pengelolaan tenaga kerja yang sesuai dengan peraturan perundang undangan ketenagakerjaan. Salah satu buktinya adalah hingga saat ini belum pernah ada kasus kecelakaan kerja di EMCL.
’’Ini bukti bahwa pengelolaan SDM-nya bagus mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga purnakerja. Dan ketiganya sudah dipenuhi oleh EMCL,” paparnya.[ted]





