Jombang (beritajatim.com) – Salah satu yang menonjol pada diri almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah keberanian. Hal itu bukanlah kebetulan. Namun dari tubuh Gus Dur memang mengalir darah keberanian yang diwarisi dari para leluhurnya.
Yakni dari sang kakek, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy\\\’ari dan sang ayah KH Wahid Hasyim. Saat era pendudukan Jepang, KH Hasyim Asy\\\’ari menolak menghormat kepada matahari seperti yang diperintahkan Nipon.
Karena pembangkangan itulah, pendiri pesantren Tebuireng ini ditangkap Jepang. Kiai Hasyim dipukuli hingga tangannya terluka parah. Kakek Gus Dur ini kemudian dijebloskan dalam penjara. \\\”Jadi kalau Gus Dur menjadi sosok berani itu bukan kebetulan. Namun ada darah keberanian yang diwariskan leluhurnya,\\\” kata pengasuh pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat memberikan sambutan Haul ke-9 Gus Dur, Minggu (16/12/2018) malam.
Keberanian itu juga dimiliki oleh ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim. Gus Sholah pernah membaca tulisan KH Saifudin Zuhri. Yaitu ketika KH Saifudin bersama KH Wahid Hasyim naik kereta api. Di kereta tersebut mereka mendapati perilaku perwira Jepang yang sombong. KH Wahid berani menghadapai perwira Jepang tersebut.
Tentang keberanian itu, Gus Sholah juga mendapat cerita dari pamannya, KH Yusuf Hasyim atau Pak Ud. Suatu ketika Gubernur Belanda Van Der Plas berkunjung ke Tebuireng. Diam-diam, KH Wahid memberikan secarik kertas berisi tulisan kepada sang adik, yakni KH Yusuf Hasyim.
Dalam tulisan itu ayah Gus Dur berpesan agar KH Yusuf Hasyim menembak Van de Plast ketika sedang berbincang dengan dirinya. Namun perintah tersebut tidak dijalankan oleh Pak Ud. \\\”Pak Ud kemudian ditegur oleh ayah saya. Alasannya Pak Ud tidak berani menembak karena takut mengenai sang kakak (Wahid Hasyim),\\\” kata Gus Sholah menirukan cerita pamannya.
Keberanian itu pula yang diwaris Gus Dur. Menurut Gus Sholah, pada zaman Orde Baru tidak banyak yang melontarkan kritik kepada Soeharto. Namun tidak demikian dengan Gus Dur. Dia tetap berani mengkritik Soeharto.
Demikian juga ketika seorang wartawan bernama Arswendo Atmowiloto tulisannya dianggap menyinggung umat Islam. Tabloid Monitor tempat Arswendo bekerja dibredel. Sementara Arswendo dijebloskan ke penjara. Lagi-lagi Gus Dur dengan lantang membela Arswendo.
Bagi Gus Dur, lanjut Gus Sholah, keberanian itu bukan sebatas retorika. Buka hanya dalam ucapan. Bukan alam pikiran. Keberanian bagi Gus Dur adalah pengalaman, perasaan, dan tindakan. \\\”Itu yang bisa kita teladani dari Gus Dur. Kita semua tahu Gus Dur adalah orang yang berani. Bahkan terlalu berani,\\\” pungkasnya.
Selain Gus Sholah, sejumlah tokoh yang hadir juga memberikan testimoni tentang Gus Dur. Mereka adalah Kwik Kian Gie (Menko Ekuin era Gus Dur), Bondan Gunawan (Mensesneg era Gus Dur), Wahyu Muryadi (Kepala Protokol Istana era Gus Dur).
Acara yang dibanjiri pengunjung itu juga dihadiri Gubernur Jatim terpilih Hj Khofifah Indar Parawansa. Dari keluarga Gus Dur, diwakili Zannuba Arifah Chafsah atau Yenny Wahid. [suf]





