Ponorogo (beritajatim.com) – Boyong alias pemindahan para pedagang Pasar Legi Ponorogo lagi-lagi mundur. Setelah sempat diundur dari 23 Desember menjadi 26 Desember, kabar terkini menyebutkan boyong akan dilaksanakan setelah seluruh proyek bangunan pasar relokasi selesai.
“Jadwal proyek selesai pada 29 Desember besok. Lalu, Forkopimda usul pemindahan dilakukan pada malam tahun baru, dipaskan sekalian begitu,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Perdagkum) Ponorogo Addin Andanawarih, Rabu (26/12/2018).
Semula boyong segera akan dilakukan bila pekerjaan bisa dipercepat. Namun saat itu pedagang keberatan karena jelang Natal biasanya pembeliam konsumen meningkat. Saat ini pasar sudah mulai sepi namun boyong belum bisa dilakukan.
“Lokasi belum 100 persen rampung. Masih ada pekerjaan sedikit, yaitu pemasangan paving. Kita yakin tanggl 29 (Desember) nanti selesai dan pas pergantian tahun nanti sudah bisa ditempati,” ujarnya.
Dari pengamatan beritajatim.com, sepanjang Rabu ini tampak para staf Dinas Perdagkum Ponorogo sedang membagi los yang ada menjadi kapling-kapling kecil. Mereka mengecat lantai dengan nomor-nomor tertentu dan memasang label sesuai produk yang ditawarkan pedagang.
Pada pasar relokasi tersebut terdapat 1.689 toko dan kios. Terdapat empat los pada pasar relokasi tersebut. Untuk los 1, los 2 dan los 3 yang membujur dari utara ke selatan masing-masing berkapasitas 22 toko atau kapling ukuran 2×2 meter, 326 kios besar ukuran 2×1,35 meter dan 90 kios kecil berukuran 1,6×1 meter.
Sedangkan di los 4 yang melintang dari timur ke barat menyediakan 375 kios ukuran 2×1 meter. Los 4 ini disediakan untuk pedagang dari pasar eks pengadilan 4A, eks pengadilan 4B dan eks stasiun 4C.
Sejumlah pekerja menyatakan, finishing bangunan relokasi cukup tersendat akhir-akhir ini. Kendala terbesar adalah cuaca yang kurang mendukung. Hujan yang mulai sering terjadi membuat pekerjaan harus dihentikan. “Kalau tidak hujan kita kebut, bahkan kita kerja sampai malam. Sampai lembur-lembur,” ungkap salah satu pekerja yang enggan disebut namanya. [dil/kun]





