Surabaya (beritajatim.com) – Surabaya Diabetic Foot Clinic (SDFC) melalui dr Andre Triandi Desnantyo, Sp.OT(K), Konsultan Ortopedi memberikan informasi menarik tentang Diabetic Foot atau luka kaki diabetes. dr Andre mengatakan bahwa banyak dari penderita Diabetes yang mengaku memiliki luka dan mayoritas luka tersebut lebih banyak di bagian kaki.
Penyakit diabetes ini menyerang saraf neuropati dan membuat sirkulasi darah tidak lancar. Ketika Saraf neuropati rusak, kaki akan menjadi mati rasa dan saat penderita diabetes terluka di baguan kaki, kondisi semakin diperparah dengan sirkulasi darah yang buruk.
Rusaknya saraf di kaki sistem peredaran darah juga ikut rusak dan menjadikan luka mudah terinfeksi.
Luka kaki ringan bisa saja berubah menjadi komplikasi serius dan perlu diamputasi.
\\\”Gejalanya timbul akibat komplikasi penyakit diabetes mellitus biasanya ditandai dengan kaki hitam dan bengkak, mati rasa, kesemutan, nyeri, luka tak kunjung sembuh, kulit kering pada bagian bawah kaki. Sebagian orang berpikir ini harus diamputasi, padahal ada upaya lain tanpa menghilangkan salah satu fungsi tubuh,\\\” terang dr Andre kepada beritajatim.com, Rabu (26/12/2018).
dr. Andre menambahkan asalkan mendapatkan penanganan yang benar dan tepat, kaki luka ringan pada penderita diabetes bisa sembuh tanpa amputasi.
“Amputasi dilakukan ketika kondisi pasien sudah mengancam jiwa. Namun kebanyakan pasien serta merta menghilangkan anggota tubuhnya karena putus asa luka pada kaki tidak kunjung sembuh,” kata dr Andre, menjelaskan.
Selain amputasi, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan luka kaki diabetes, yaitu mengangkat sumber penyakitnya. Ia juga menjelaskan seandainya terjadi pembengkakan pada luka karena kumpulan sel pembuluh darah yang mati, maka bukan kakinya yang diangkat.
Cara lain yang juga bisa dilakukan adalah mengontrol gula darah dari pola makan. “Yang terjadi selama ini, dokter hanya fokus pada pengobatan lukanya. Sementara penyebab dari luka itu tidak diperhatikan, tak heran jika luka bisa terjadi lagi di tempat yang sama,\\\” tegasnya.
Tidak hanya luka yang harus dirawat, terkadang pasien juga mengalami perubahan bentuk kaki yang tidak beraturan. Kondisi ini ditandai bengkak dan tulang kaki yang melengkung. Perubahan tulang pada penderita diabetes biasanya terjadi pada pasien usia 50 sampai 70 tahun ke atas.
\\\”Sebanyak 90 persen pasien yang kami tangani mengalami perubahan tulang adalah usia-usia tersebut. Sebenarnya kondisi ini bisa diperbaiki dengan pemasangan penyangga kaki dan sepatu khusus untuk mengurangi resiko,\\\” terang dr Andre.
Penanganan pertama untuk penyembuhan pasien diabetes dengan pembengkokan tulang akan dilakukan screening. Untuk mengetahui apakah itu masalah komplikasi kaki syaraf, tulang, maupun penyumbatan pembuluh darah.
Setelah ditemukan penyebabnya, maka dilanjutkan dengan melakukan koreksi kadar gula dalam darah.
\\\”Lalu baru membetulkan struktur anatomi dan management luka, sudah teratasi, maka baru penggunaan alat bantu penyangga kaki. Jadi harapnnya tingkat amputasi pada penderita diabetes berkurang,\\\” tambahnya. [adg/but]





