Gresik (beritajatim.com) – Material bahan pembangunan Masjid Al-Fath di Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, cukup unik. Pasalnya, masjid yang dibangun di atas lahan 1.000 meter persegi itu, memanfaatkan limbah padat pembakaran batu bara pembangkit tenaga listrik, atau lebih dikenal dengan fly ash dan bottom ash (Faba).
Dengan konsep ‘Green Building’, masjid yang dikelola Koperasi Konsumen Karyawan Petrokimia Gresik (K3PG) tersebut berbeda dengan masjid lainnya.
Ketua K3PG Awang Djohan Bachtiar menuturkan, masjid ini dibangun untuk sarana tempat beribadah bagi warga perumahan, dan warga sekitar. “Pembangunan masjid ini merupakan buah inovasi terhadap kepedulian lingkungan. Dimana, untuk mengurangi penggunaan semen. Kami memanfaatkan fly ash, dan bottom ash pada mihrab, lantai kerja, beton konsol, beton porous, serta bangunan kamar mandi, dan parkiran,” tuturnya, Rabu (7/06/2023).
Ia menambahkan, penggunaan Faba merupakan langkah konversi mengurangi emisi karbon. Ini karena dengan menggunakan konsep tersebut bisa mengurangi sebanyak 541,89 ton dalam proyek pembangunan masjid tersebut.
“Setelah melalui tes dan uji coba proyek pembangunan ini telah berhasil mengurangi emisi sebesar 149,018 ton CO2. Sementara dari sisi kekuatan menghasilkan kekuatan beton antara K175 hingga K250 sesuai standar mutu,” imbuhnya.
Sementara itu, Dirut Petrokimia Dwi Satryo Annurogo mengatakan, dengan mengkedepankan eco green, atau ramah lingkungan. Masjid Al-Fath ini dikonsep mengurangi emisi karbon. “Dengan desain terbuka kami berharap semua warga bisa menghidupkan masjid ini. Baik itu pendidikan maupun lainnya,” katanya.
Dwi Satryo Annurogo menyatakan yang berbeda dari anak usaha Petrokimia Gresik ini. K3PG malah mendahulukan masjid dulu dibanding tempat hunian. “Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh K3PG. Saat membangun masjid hanya membutuhkan waktu 4 bulan. Padahal, dari sisi bisnis lebih mendahulukan hunian dibanding sarana tempat ibadah,” pungkasnya. [dny/kun]
BACA JUGA:






