Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) prodi pendidikan bahasa, sastra Indonesia, dan daerah Fakultas Sastra (FS) menampilkan geguritan dan karawitan. Pementasan ini merupakan produk matakuliah Apresiasi Sastra Jawa yang diampu Dr. Dwi Sulistyorini , S.S., M.Hum.
“Syukur alhamdulillah, kita tetap dapat merawat dengan baik budaya Jawa untuk melestarikan budaya daerah agar tidak sirna. Bahkan, budaya Jawa juga dapat digunakan untuk mempelajari seni budaya, bahasa daerah, dan dapat untuk belajar tata krama,” kata Dr. Dwi Sulistyorini saat sambutan, Selasa (23/5/2023).
Menurut Dwi, budaya sangat penting untuk dipelajari karena bisa digunakan dalam kegiatan akademik dalam forum nasional maupun internasional. Budaya daerah dapat dikenalkan ke mancanegara melalui program pertukaran mahasiswa, asisten mengajar mahasiswa di luar negeri, maupun perhelatan budaya antar bangsa. Melalui kegiatan ini harapannya agar generasi muda termotivasi dan bertekad untuk melestarikan budaya lokal sehingga tidak hilang.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/um-malang-dekatkan-perguruan-tinggi-dan-industri/
“Hari ini, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2021 mampu menghidupkan kembali budaya Jawa dalam bentuk pembacaan puisi (geguritan) yang diiringi dengan karawitan.Semoga budaya Jawa lestari agar generasi muda dan anak cucu kita bisa paham dan menikmati budaya Jawa,” pungkas dosen FS UM tersebut.
Pentas geguritan dan karawitan ini mengusung tema ‘Bombong Lestari Tradisi’. Menurut Fandy Romadhoni sebagai pelatih dan pendamping mahasiswa, bombong bermakna teguh atau memiliki niat kuat. “Tujuannya agar anak anak yang mengambil peminatan bahasa Jawa tidak terputus belajar di sini saja. Semoga bisa terus belajar bahasa dan sastra Jawa,” ujar Fandy.

Acara ini diikuti oleh mahasiswa semester 4, ujar Fandy. Menurutnya, penampilan mahasiswa dikemas santai dan gembira agar mahasiswa tidak merasa tegang.
“Sebelumnya sebagian besar anak belum mengenal gamelan. Di laboratorium drama FS ini ada fasilitas gamelan laras slendro, pelog, dan banyuwangen. Kami memanfaatkan itu jadi pementasan. Ini memang tugas praktek dari mata kuliah apresiasi Sastra Jawa. Tapi kalau biasanya ada embel-embel tugas itu tegang, tadi acaranya happy dan santai,” jelasnya.
Salah satu mahasiswa, Elita Dwi Kusmudiasri yang juga menjadi penanggung jawab mata kuliah, merasa banyak pengalaman yang didapatkan. Mata kuliah ini kata Elita Dwi, begitu mengesankan karena tidak hanya belajar untuk menampilkan geguritan atau karawitan saja. Tapi juga belajar pengalaman organisasi.
“Misalnya kepanitiaan, yang mungkin bisa dilatih bekerja sama dan mengambil keputusan. Banyak hal yang bisa kami dapat dari ujian praktik yang unik ini. Memang fokusnya ini sebagai ujian akhir semester, tapi panitia mengonsepnya sebagai pagelaran karawitan dan geguritan,” ujarnya.
Sebagai informasi, penampilan mahasiswa UM ini dapat dilihat melalui live Instagram @gatraum. Hasil video mahasiswa nantinya akan didaftarkan untuk mendapat Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain itu juga diunggah pada kanal Youtube fakultas dan Youtube humas UM. (dan/kun)






