Lamongan (beritajatim.com) – Penemuan bangkai pesawat yang diduga berasal dari era Perang Dunia II mengejutkan warga Lamongan. Dalam hal ini, pegiat sejarah Begandring Soerabaia, Achmad Zaki Yamani ikut angkat bicara menanggapinya.
Menurut Zaki, pesawat yang ditemukan nelayan itu bergaya monoplane single seat dan memiliki bentuk yang begitu unik. Dia menambahkan, pesawat tempur ini memiliki bentuk badan yang khas serta kokpit kecil yang dekat dengan sayap.
“Berdasarkan video dan foto serta konsultasi dengan rekan-rekan sepertinya yang ditemukan identik dengan pesawat tempur Brewster Buffalo B-339C milik Angkatan Udara Hindia Belanda,” kata Zaki saat dihubungi beritajatim.com, Selasa (23/5/2023).

Zaki pun meyakini, pesawat ini diterjunkan saat awal Jepang menginvasi Hindia Belanda. Kala itu, Angkatan Udara Hindia Belanda menderita kerugian besar dalam pertempuran melawan A6M Zero milik Angkatan Laut Jepang dan Nakajima Ki-43 milik Angkatan Darat Jepang.
“Ini mengarah pada pesawat tempur milik AU Hindia Belanda, yang dalam bahasa Belanda namanya adalah Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (ML-KNIL),” tandasnya.
BACA JUGA: Nelayan Lamongan Temukan Puing Pesawat di Dasar Laut
Lebih lanjut, saat ditanya mengenai keberadaan pangkalan militer di pesisir pantai Lamongan seperti yang diceritakan oleh warga, Zaki menyatakan bahwa lokasi itu kemungkinan besarnya merupakan pos marinir yang didirikan oleh Belanda.
“Itu sepertinya pos marinir Belanda mas, yang digunakan untuk melakukan pengawasan laut dan jalan,” ujarnya.
Seperti diberitakan beritajatim.com sebelumnya, pesawat itu pertama kali ditemukan oleh nelayan bernama Miftah, warga RT 01 RW 03, Desa Weru, Kecamatan Paciran. Pesawat ini ditemukan dengan kondisi yang tak lagi utuh, pada hari Minggu (21/5/2023).
Penemuan ini berawal saat Miftah sedang melaut dan menabur jaring ikan. Akan tetapi setibanya di titik yang tak jauh dari lokasi pengeboran minyak atau 12 mil dari bibir pantai, jaringnya tiba-tiba menyangkut suatu benda yang ada di dasar laut.
Miftah pun kemudian mengecek jaring penangkap ikan miliknya tersebut dan mencoba menariknya sendirian. Awalnya, Miftah belum mengetahui jika jaring itu menyangkut pada bagian bangkai pesawat tempur yang sudah tenggelam di dasar laut sejak lama.
BACA JUGA: PUPR Kabupaten Mojokerto Normalisasi Sungai Avour Wonoayu
Miftah berniat akan menyingkirkan benda yang tersangkut itu agar tidak menggangu para nelayan lain saat melaut. Selang sejenak, Miftah baru mengetahui jika benda yang tersangkut di jaring itu adalah puing atau bangkai pesawat.
Miftah mencoba untuk menariknya ke bibir pantai. Nahasnya saat Miftah berada di jarak sekitar 2 mil dari pantai, perahunya kehabisan solar. Akhirnya Miftah memutuskan untuk memasang tanda dan meminta bantuan kepada warga nelayan setempat, sekira pukul 06.30 WIB.
Pasca ditemukan pada Minggu (21/5/2023) kemarin, lalu sehari setelahnya bangkai itu baru bisa dibawa menepi dan ditarik ke daratan oleh warga nelayan pada hari Senin sekitar pukul 14.00 WIB.
Sementara itu, Sekretaris DPC HNSI Kabupaten Lamongan, Murod meyakini bahwa bangkai pesawat itu masih ada hubungannya dengan Desa Weru. Pasalnya, dulu di Desa Weru pernah ada pangkalan militer yang diduga didirikan oleh pasukan sekutu. Tempat itu kini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Tangsi.
“Dulu di Desa Weru pernah ada pangkalan militer yang cukup besar. Namanya Tangsi, yang kini lokasinya berada di sekitaran pasar atau TPI Desa Weru,” jelasnya. [riq/ted]






