Jember (beritajatim.com) – Publik saat ini menanti adu gagasan antarcalon presiden. Anies Rasyid Baswedan sudah mulai membuka gagasan tentang bagaimana pembangunan Indonesia lima tahun ke depan.
“Dalam arena kontestasi proses pilpres, publik sangat menanti adu narasi gagasan dan argumentasi antarcapres. Sebagai capres, Anies sudah makin tampil terbuka membuka nalar publik dengan menyodorkan sejumlah narasi gagasan dan argumentasi yang strategis untuk perubahan masa depan bangsa,” kata Muhammad Iqbal, pengamat komunikasi politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (23/5/2023).
Iqbal mencontohkan pidato Anies dalam acara puncak Milad Ke-21 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menyinggung masalah pembangunan infrastruktur. Anies membeberkan fakta bahwa jalan umum yang dibangun pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono jauh lebih panjang daripada masa pemerintahan Joko Widodo.
Situs resmi Setkab.go.id menyebutkan, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan selama 2007-2013 berhasil membangun 520.878 unit jalan sepanjang 650.978 km. Program jalan desa SBY yang dua kali lipat lebih panjang dari jalan desa Jokowi.
Dengan membeberkan data perbandingan pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan Joko Widodo, Anies sesungguhnya sedang membuka ruang untuk adu gagasan. “Soal insfrastruktur jalan, seharusnya bisa langsung dibalas Jokowi atau menteri Jokowi sendiri, atau calon presiden yang di lingkar Jokowi,” kata Iqbal.
Hal senada juga dikemukakan Moch. Eksan, penulis buku ‘Kerikil di Balik Sepatu Anies’. “Kritik Anies benar, bahwa SBY lebih berhasil membangun infrastruktur jalan daripada Jokowi. Gelar Jokowi sebagai “Bapak Infrastuktur” pun runtuh dengan data perbandingan jalan antara SBY dan Jokowi tersebut,” katanya.
Menurut Eksan, kritik terhadap pembangunan jalan berbayar dan jalan nasional, provinsi dan kabupaten/kota menunjukkan bahwa Anies memilih idealisme untuk meluruskan informasi dan menghadirkan keadilan. “Publik akhirnya menjadi tahu, bahwa Jokowi hanya unggul dalam pembangunan jalan tol. Sementara, jalan umum, Jokowi tertinggal jauh dari capaian pembanguan jalan SBY,” katanya.
Eksan mengingatkan kekuasaan cenderung disalahgunakan dan memutarbalik fakta lazim dalam pencitraan politik. “Selama ini rakyat Indonesia dibohongi dengan informasi yang tak faktual. Data statistik pembangunan jalan sarat bluffing dan sangat kental dengan agenda setting,” katanya.
Manuver Anies, lanjut Eksan, membuktikan bahwa dalam menjalankan misi kepemimpinan, mantan Rektor Universitas Paramadina itu masih tetap di atas jalan independen. “Ia tetap jadi diri sendiri dan tak pernah berubah menjadi partai politik apa pun dalam merebut dan menjalankan kekuasaan,” katanya. [wir]






