Selain revolusi industri, teknologi informasi adalah elemen paling cepat dalam perkembangan umat manusia. Sapiens, (spesies yang disebut Yuval Noah Harari bisa bertahan hingga hari ini), mungkin tidak pernah menyangka akan masuk pada abad kecerdasan buatan.
Semua pekerjaan manusia saat ini mungkin mulai terancam dengan kehadiran artificial intelligence (AI). Ketika pekerjaan non teknis yang tidak membutuhkan keahlian khusus harus siap-siap gulung tikar atau challenge pada ranah lain.
Teknologi informasi, kita tahu semua dimulai ketika Graham Bell pada tahun 1885 menemukan telepon. Tapi Bell, tidak pernah tahu ke depan umat manusia mampu menemukan sinyal cepat bernama 5G, hadir seorang plontos bernama Steve Jobs yang karyanya jadi tangisan anak-anak muda Indonesia, atau lahir seorang Elon Musk yang bercita-cita terbang ke angkasa.
Bell hanya memulai dengan telepon yang disambungkan melalui kabel. Lalu kemudian, generasi setelahnya melakukan banyak perubahan, inovasi, dan penciptaan hal-hal baru.
Perkembangan teknologi informasi berjalin kelindan dengan perjalanan komunikasi. Semakin berkembang kecepatan teknologi informasi semakin cepat pula seseorang berinteraksi, bahkan saat ini interaksi dengan super nyata.
Orang – orang yang berasal dari X atau Baby Boomers mungkin masih mengalami betapa sulitnya menjalin interaksi jarak jauh, harus berkirim surat, berkirim FAX, atau pergi ke kota besar mencari telepon kabel yang dimasukkan dengan sejumlah koin.
Generasi X bisa kita katakan sebagai generasi lintas waktu. Saat ini, mereka mengalami teknologi informasi terbaru bernama Video Call, bahkan terbaru konon sudah ditemukan Video Virtual Reality (Bagi Anda penggemar Marvel atau film-film Sci Fi, sudah tidak asing dengan proyektil orang yang bisa muncul secara langsung di depan mata seolah-olah dia hadir padahal hanya proyektil).
Generasi X jelas masih sedikit gagap urusan teknologi, mereka tidak akan sebaik anak milenial. Generasi milenial yang mengalami peralihan soal kecepatan jaringan itu.
Baca Juga:
Mengenal ChatGPT, Chatbot yang Disinyalir Gantikan Peran Manusia
Atau perubahan dari generasi rezim Nokia menuju Apple Corp, Samsung, etc. Generasi milenial boleh dikatakan sebagai generasi yang paham teknologi. Mereka sudah belajar soal teknologi informasi sejak usia remaja awal. Kita mulai beralih, dari dunia nyata, menuju dunia maya, mungkin saja beberapa tahun yang akan datang kita beralih ke dunia virtual (seperti dalam film Blade Runner 2040, atau Ender’s Game atau Free Guynya Ryan Reynolds).
Namun, dari semua itu yang perlu menjadi sorotan adalah generasi Z, generasi yang lahir dan besar dengan teknologi. Anda yang kelahiran tahun 2004, dan seterusnya itu.
Sudah sejak kecil akrab dan karib dengan gawai. Bahkan, ketika kalian menangis ketika ayah atau ibu Anda sibuk, bukan mainan tradisional yang diberikan melainkan sebuah gawai atau tab atau tablet.
Mungkin saya terlalu berlebihan memandang Anda generasi Z, bisa jadi itu terlalu muda bagi Anda, oh baiklah kita masih sama-sama generasi milenial. Generasi milenial yang berbeda secara perhitungan kuadrat. Kalian lebih unggul dan terdepan sedikit di bandang generasi milenial murni — Itu pandang subjektif saya.
Literasi Digital
Tulisan ini diawali dengan pembahasan tentang perkembangan teknologi informasi. Nafas zaman yang berubah dengan sangat cepat. Maka tak heran jika hari ini, kita (semua generasi) membutuhkan literasi digital.
Literasi, menurut Djoko Saryono, adalah epicentrum peradaban. Manusia dikatakan beradab tentunya dengan berliterasi. Literasi tidak bisa hanya dikatakan sebagai kewajiban baca, tulis, dan hitung. Lebih dari itu, literasi adalah proses memahami , mengerti, mempraktikkan, dan bahkan mungkin memunculkan hal baru. Dalam definisi ini konteksnya adalah dunia digital.
Salah satu masalah yang paling mengkhawatirkan era digital ini adalah banjir informasi. Dengan banjirnya informasi, lahir banyak hoax dan kemudian berita yang menyesatkan pembacanya.
Baca Juga:
https://beritajatim.com/ragam/jurusan-kuliah-yang-tidak-akan-digantikan-oleh-artificial-intelligent/
Hoax seringkali menjerumuskan pembaca dunia maya (netizen.Red) pada informasi yang salah. Informasi yang didapatkan itu pun kadang membuat pembacanya menjustifikasi sesuatu.
Misalnya pada momen menjelang pemilu seperti saat ini, Hoax, benar-benar marajalela. Ia dimanfaatkan untuk mempengaruhi satu kubu agar membenci kubu lainnya dan sebaliknya.
Strategi Hoax ini, mungkin masih bisa berlaku pada mereka yang kurang pemahaman literasi digital. Hoax memang masalah tersendiri bagi dunia digital, tapi ia tidak hanya sekelumit masalah yang hadir dalam perkembangan teknologi informasi dalam peradaban umat manusia.
Selanjutnya, hadir masalah lain yang juga cukup mengkhawatirkan dengan makin pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). AI seperti di satu sisi menggembirakan, tetapi pada saat yang sama AI menimbulkan masalah. AI dapat memudahkan pekerjaan kita dengan penggunaan secara tepat, baik, dan benar. Misalnya Chat GPT yang digunakan oleh seorang penulis Indonesia bernama Dadang Ari Murtono untuk kolaborasi dalam pembuatan menulis novel.
Namun, di sisi lain kehadiran AI adalah ancaman bagi kita : umat manusia. Buruknya misalnya Chatpa GPT yang digunakan menggarap penulis artikel ilmiah, seperti skripsi, makalah, dan lain-lain. AI yang nyata-nyata saat ini banyak digunakan adalah Chat GPT pada platform Chapta GPT.
Fenomena Chat GPT tentu bisa menjadi contoh sederhana AI akan mengambil alih pekerjaan umat manusia. Tak hanya itu, di Instagram beberapa waktu lalu ramai soal AI yang bisa memodifikasi suara. Misalnya, suara Presiden Jokowi menyanyikan lagu Deny Caknan. Lantas, di kolom komentar seorang netizen berujar “AI makin lama , makin mengkhawatirkan!”
Saya membayangkan AI terus merajalela bahkan sampai pada hal-hal praktikal, lahan pertanian misalnya. Bukankah itu sungguh mengkhawatirkan.
Jika ada AI yang mampu membuat pohon tumbuh lebih subur, atau ia mampu menggemburkan tanah. Maka perusahaan-perusahaan besar akan lebih memilih AI daripada manusia. Sebab AI tidak memerlukan banyak hal, ia hanya memerlukan biaya perawatan, dan atau paling biaya servis saja.
Dari semua itu, bagaimanapun kita tidak bisa terancam dengan hal-hal yang memiliki keterbatasan seperti AI (termasuk di dalamnya Chapta GPT). Sebab, mereka hanya melakukan parafrase terbatas dengan informasi yang terbatas pula. Bahkan, Chapta GPT tidak mampu menyerap informasi terbaru (yang dimuat dunia maya pasca 2019, setelah data Capta GPT dibuat).
[berita-terkait number=”2″ tag=”teknologi”]
Di satu sisi solusi dari itu semua, kita sebaiknya terus berinovasi dan membatasi inovasi itu sendiri. Jangan sampai buatan manusia justru dapat mengalahkan manusia.
Satu yang jelas, AI tidak seperti manusia, secanggih-canggih AI ia tidak memiliki perasaan tidak memiliki feel, tidak memiliki hasrat.
Pekerjaan atau keahlian yang membutuhkan ‘feeling’ seperti menulis karya sastra, menciptakan musik yang sangat indah, atau mengolah padi dengan rasa khas, AI masih belum bisa melakukannya. Terakhir perlu dikatakan bahwa : Abad ini telah membawa pilihan hidup pada ambang, diam saja tergerus ciptaan manusia (AI) atau terus berinovasi. (dan/ted)






