Surabaya (beritajatim.com) – Perjuangan Irian Murib, seorang mahasiswa Unusa asal Papua ini patut diapresiasi. Karena agar bisa melanjutkan kuliah, dirinya sempat menjual babi hingga menggadaikan laptop miliknya.
Irian Murib adalah mahasiswa Program Studi PGSD Fakulats Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unusa. Dia menjadi satu dari ratusan mahasiswa Unusa yang diwisuda pada prosesi Wisuda Unusa periode Mei 2023.
Kini, pria kelahiran Beofa, Papua itu resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan setelah menyelesaikan skripsi berjudul ‘Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar Siswa di SD Negeri 7 Distrik Jayanti, Kab. Mimika, Papua’ dengan nilai A.
Irian Murib mengungkapkan, bahwa sebenarnya tak ada niatan dirinya untuk menjadi seorang guru. Tapi, karena dorongan orang tua, utamanya ibu berpesan bahwa pendidikan dan kesehatan masih sangat dibutuhkan di Papua.
“Saya mengikuti saran orang tua, lalu saya memilih FKIP dan mengambil PGSD. Setelah ini saya mau ambil Pendidikan Profesi Guru (PPG) agar nanti setelah kembali saya benar-benar menjadi guru profesional,” ungkapnya.
Ia juga bercerita, mulanya dia tidak tahu jika Unusa adalah kampus milik yayasan Islam. Tapi karena dia ingin menjadi guru dan kampusnya cukup memiliki fasilitas bagus, kemudian ia memilih Unusa dan memperoleh beasiswa dari Freeport.
Baca Juga:
Unusa dan PT PLN Nusantara Power Bakal Kembangkan Teknologi VR
“Awalnya saya canggung untuk bergaul, karena sebagian mahasiswanya adalah perempuan, tapi setelah berjalan beberapa lama, kampus ini mengasyikan dan nyaman, baik dosen dan mahasiswanya mau menghormati perbedaan. Kini saya betah berlama-lama di kampus,” katanya.
Setelah menyelesaikan urusannya di Surabaya, ia berniat akan kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan diri sebagai pendidik. Dia telah membuktikannya saat menyusun skripsi di bawah dosen pembimbing Akhwani.
“Minimal saya sudah tiga kali bolak-balik dan pindah sekolah untuk mencari data dalam menyusun skripsi. Juga sudah tiga sekolah berbeda saya kunjungi. Dari pengalaman itulah saya berjanji untuk kembali ke kampung halaman menjadi guru profesional,” ujarnya.
Sementara itu, Akhwani mengakui kegigihan Irian Murib dalam menyelesiakan kuliahnya. Kata dia, Irian Murib sempat mengambil cuti pada semester tiga. Alasannya karena saat itu terjadi kericuhan terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.
Baca Juga:
Unusa Masuk 58 Kampus Terbaik Indonesia
“Dia khawatir ada kericuhan yang meluas. Akhirnya dia Kembali ke kampung halamannya. Tapi setelah itu dia kembali aktif kuliah lagi,” katanya.
Akhwani juga mengungkapkan, bahwa Irian Murib juga bercerita jika dirinya pernah menjual babi hasil lamaran kakanya agar bisa tetap kuliah di Unusa. Bahkan, dia juga pernah menggadaikan laptop hanya untuk membayar listrik kontrakan.
“Saya apresiasi terhadap keinginan kuatnya untuk menjadi guru di daerah asalnya. Niatnya itu perlu kita dorong terus agar pendidikan di negeri ini merata di semua daerah, termasuk di Papua,” kata Akhwani. [ipl/beq]






