Surabaya (beritajatim.com) – Nama belakang Pantouw menjadi nama yang cukup disegani di dunia beladiri Judo. Sejak tahun 80-an sudah banyak medali Judo yang didapatkan oleh atlet bernama belakang Pantouw. Usut punya usut ternyata nama keluarga Minahasa ini memang milik keluarga Pantouw yang merantau ke berbagai daerah terutama Surabaya dan Jakarta yang melestarikan beladiri Judo.
Di Surabaya sendiri Ketua Umum Pengurus Kota Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Surabaya, bernama Venny Pantouw. Ternyata Venny adalah anak kandung M.A Pantouw yang merupakan seorang pemilik dan pelatih club Judo di Pucang. Keluarga Pantaow mulai merintis prestasi melalui club Pucang sejak tahun 80-an. Dan kini klub Pucang telah diwariskan kepada anak kandung wanitanya yakni Venny Pantaow.
Mewariskan Judo Club Pucang bagi Venny Pantaow merupakan sebuah anugrah yang dipercayakan oleh keluarga besarnya karena dirinya dapat memberikan ilmu kepada para atlet dan terus dapat melahirkan bibit-bibit prestasi dari club Pucang tanpa memungut biaya sedikit pun
“Tak banyak yang mengenal Judo, tetapi Judo menjadi salah satu penghasil medali yang cukup banyak saat Porprov. Untuk itu tugas saya menjaga Judo ini tetap hidup dan memiliki banyak peminat,” ungkap Venny.
Venny tak sekadar penerus, dirinya sudah terjun menjadi atlet Judo sejak berusia 12 tahun dan di usianya 15 tahun dirinya sudah mampu meraih emas sea games Filipina pada tahun 1981. Dan mampu meraih medali emas di dua SEA Games berikutnya di Singapura dan Malaysia. Venny pernah dinobatkan sebagai atlet termuda yang meraih emas pada tahun 1981 itu.
Venny Pantouw pun merupakan pelatih Judo andalan Surabaya yang beberapa waktu lalu menjadi pelatih nasional untuk Sea Games pada 2019 lalu. Venny juga sosok ibu yang tak ingin beladiri Judo hilang dari keluarga besarnya. Darah Judo pun mengalir di ke 4 anak-anaknya yang juga menorehkan prestasi nasional bahkan internasional. Dimana Sari Astraviani, sang anak pertama kini menjadi Wasit Nasional Terbaik di Indonesia. Anak keduanya Pierry Taterra sebagai Pelatih Judo Porpov yang selalu mendulang puluhan emas bagi kota Surabaya. Anak ketiganya, Gian Nita menjadi atlet Judo Paralimpic. Serta anak bungsunya Vania Oktavia yang masih aktif menjadi atlet sudah mengantongi puluhan prestasi daerah dan nasional.
Pada tahun 2012 Museum Rekor Dunia Indonesia pun memberikan Venny Pantouw dan keluarganya rekor baru. Yakni rekor tiga generasi atlet Judo.

Sebagai seorang pelatih yang disiplin dan tegas ternyata Venny Pantouw pun mampu menjalankan perannya sebagai seorang ibu yang siap menjadi penyemangat bagi anak-anaknya tanpa kenal lelah. Salah satunya saat moment sang anak, Gian Niata yang sudah terjun ke dunia Judo sejak usia 4 tahun harus menghentikan mimpi-mimpinya berlaga dikancah internasional pada 2017.
“Sehabis mengikuti PON Jabar waktu itu saya cidera pada bagian pembulu darah kaki yang menyebabkan saraf mata mengalami penurunan penglihataan yang menyebakan saya susah melihat,” ujar Gian yang kini harus menggunakan kacamata tebal itu.
Namun Venny tak ingin mengubur impian anaknya dan terus menyemangatinya serta meminta anaknya tetap berlatih hingga akhirnya Gian bergabung dengan National Paralimpic Commite (NPC) Jawa Timur. Upaya bangkit ini pun membuahkan dua medali emas untuk Indonesia dalam ajang Asean Paragames Indonesia 2022 lalu.
“Mama itu sosok yang kuat dan tak hanya mensuport kami anak-anaknya. Tetapi juga anak-anak lainnya yang ingin menjadi atlet Judo. Mama pun tak mau menarik biaya untuk setiap pelatihan yang diberikannya kepada semua anak-anak didiknya setiap hari,” tutur Gian.
Venny Pantouw kini menjadi penjaga trah keluarga Pantouw di Surabaya yang lekat dengan segudang prestasi Judo. Sebuah tugas yang cukup berat namun dijalaninya karena kecintaannya yang besar pada olahraga Judo.[rea]






