Jember (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendukung pembongkaran bangunan liar oleh pemerintah daerah setempat. Selama ini bangunan liar menyebabkan banjir karena aliran di saluran air terhambat.
Hal ini dikemukakan Ketua DPC PKB Jember Ayub Junaidi, Kamis (4/5/2023), menyusul pembongkaran sejumlah bangunan liar di Jalan Gajah Mada oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air Jember kemarin.
“Saya kaget kemarin dapat berita di media sosial, bahwa di depan Kentucky Fried Chicken, Jalan Gajah Mada, ada banjir genangan tinggi. Biasanya genangan biasa, dan dalam waktu kurang lebih 10 menit surut. Kemarin hujan tidak terlalu deras, tapi kok tinggi genangannya air kurang lebih 50 centimeter sehingga mesin sepeda motor yang melintas mati,” kata Ayub.
Informasi yang diterima Ayub, banjir genangan tersebut dikarenakan bangunan liar yang berdiri di atas saluran air. Ayub menyerukan Pemkab Jember agar bersikap tegas menormalisasi aliran saluran air dan selokan. “Alhamdulillah, aparati Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga bereaksi cepat. Sampai tengah malam, bangunan-bangunan liar dibongkar dan akhirnya saluran air pun lancar,” katanya.
“Ini salah satu bukti, bahwa kalau pemerintah benar-benar menegakkan aturan normalisasi saluran air, insyaallah Jember akan bebas dari banjir genangan. Janganlah saluran air ini diganggu. Kalau diganggu, air secara alami akan menghantam siapa saja di depannya. Itu rumusnya. Kalau terjadi bencana, ya kita harus melakukan introspeksi,” kata Ayub.
“Bayangkan, di atas selokan didirikan bangunan liar, otomatis saluran air tersendat. Nanti kalau aliran air tersendat, korbannya masyarakat juga,” kata Ayub.
PKB mengapresiasi tindakan tegas Pemkab Jember dalam menertibkan bangunan liar. “Tapi pemerintah seharusnya tidak seperti pemadam kebakaran: menunggu banjir, baru ditertibkan, menunggu viral, baru dikerjakan. Jangan. Ke depan, aparat pemerintah daerah harus segera menormalisasi (semua saluran),” kata Ayub.
Menurut Ayub, seharusnya tidak ada banjir genangan di Jember. “Secara teori, tidak mungkin, karena sungai-sungai yang melintasi kota Jember sangat dalam dan besar. Kadang saya heran, kok bisa ada banjir di kawasan Kelurahan Mangli. Itu kan tandanya ada drainase yang tak beres. Di situ kan sungai besar,” katanya.
Ayub kadang heran melihat ada banjir genangan di atas jembatan. “Masa di atas jembatan ada banjir genangan, padahal di bawah ada sungai,” katanya.
Ada juga banjir genangan yang terjadi di kawasan kampus Tegalboto, karena warga setempat, terutama pemilik toko di tepi jalan enggan membersihkan saluran drainase. “Drainase ditutup. Seharusnya ada bagian jalan yang bisa dibuka dan ditutup untuk dilakukan pengecekan,” kata Ayub.
Kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya juga menjadi persoalan. “Dulu di daerah Talangsari selalu ada banjir genangan. Begitu dicek, jumlah sampah yang diambil dari saluran air bisa mencapai tiga truk. Setelah bersih, aliran air sungai enak dan segera dinormalisasi,” kata Ayub. [wir]






