Jember (beritajatim.com) – Destinasi wisata di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tidak terintegrasi. Ini membuat kunjungan wisata tidak menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) secara maksimal.
Ini terlihat dari tidak berimbangnya peningkatan jumlah wisatawan dengan persentarse peningkatan PAD Kabupaten Jember dari tahun 2021 ke 2022. Data dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Jember 2022 menyebutkan, Jember dikunjungi 502.538 orang wisatawan nusantara dan 690 wisatawan mancanegara, lebih besar daripada kunjungan pada 2021 yang tercatat 400.444 orang. Namun pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata tercatat hanya meningkat dari 3,54 persen pada 2021 menjadi 5,33 persen tahun lalu.
“Wisatawan yang datang ke Jember memang banyak. Tapi mereka tidak terakomodasi dalam satu paket wisata. Wisatawan yang datang rata-rata mendiri dan tidak termonitor oleh Pemerintah Kabupaten Jember,” kata Sekretaris Komisi B DPRD Jember David Handoko Seto, ditulis Selasa (2/5/2023).
Ini berbeda dengan daerah lain. “Kalau di daerah lain kan diarahkan dalam satu paket wisata, sehingga duit yang dikeluarkan wisatawan jelas, masuknya ke UMKM dan kunjungan-kunjungan ke lokasi wisata,” kata David.
Padahal Jember memiliki potensi wisata luar biasa. “Mulai dari Pantai Paseban hingga Bande Alit, semuanya berpotensi wisata. Hanya di sana duitnya rata-rata masuk ke personal (pengelola wisata), tidak menjadi bagian dari kontribusi untuk PAD,” kata David.
https://beritajatim.com/ekbis/penguatan-kelompok-sadar-wisata-jember-jadi-kunci-pengembangan-pariwisata/
David mencontohkan Jember Fashion Carnaval yang menyedot wisatawan. “Mereka datang ke sini seharusnya PAD yang masuk terukur. Hotelnya berapa, pajaknya masuk ke pemda. Mereka beli oleh-oleh, pajaknya juga masuk pemda. Mereka menikmati apa saja ketika di Jember. Apakah hanya dari hotel nonton JFC atau ada destinasi lain yang dituju. Ini tidak terkonsep,” katanya.
“Itulah kenapa kami melihat pemerintah daerah belum serius dalam menyatakan bahwa wisata menjadi salah satu program prioritas. Coba kalau serius seperti ada alat yang mendeteksi berapa banyak orang yang belanja sehingga pajaknya terhitung. Sekarang masih banyak loss. Kalau pelaporan manual, bisa saja sepuluh orang pengunjung dilaporkan hanya dua orang,” kata David.
David meminta kepada Badan Pendapatan Daerah Jember agar menginstruksikan kepada seluruh hotel, restoran, dan destinasi wisata agar mulai memakai perangkat yang mempermudah pendeteksian pajak yang diterima pemda. “Walau ada loss, bisa ditekan,” katanya. [wir/ted]






