Jombang (beritajatim.com) – Lampu di panggung itu menyala putih kekuningan. Terlihat meja, dua kursi, serta sebuah kursi goyang. Seorang perempuan tua memasuki panggung itu. Dia menghempaskan tubuhnya di atas kursi goyang. Duduk santai menikmati kesendirian di teras rumah.
Tak berselang lama, seorang lelaki yang rambutnya sudah memutih menyusul perempuan tersebut. Lelaki itu membawa segelas susu panas, lalu ditawarkan kepada sang perempuan yang tak lain adalah istrinya.
Namun, perempuan tersebut menolak meminum susu yang diberikan oleh suaminya. Dia meminta sang suami meletakkan segelas susu panas itu di atas meja. Setelah beberapa kali dibujuk oleh pria tersebut, perempuan itu akhirnya berniat meminum susu dengan syarat, keadaan susu haruslah hangat.
Namun yang terjadi justru perdebatan panjang. Perdebatan antara suami dengan istrinya. Perdebatan tentang kenikmatan antara menyesap susu panas atau susu dingin. “Susu itu masih panas dan kau harus segera meminumnya. Susu itu akan menjadi dingin kalau kau tak segera meminumnya. Bukankah kau tak suka susu dingin,? kata sang suami.
“Iya, aku akan meminumnya, tapi nanti,” timpal sang istri.
BACA JUGA:
Shelter Rumah Hati Pentas di Ubaya, Teater untuk Terapi
Lelaki itu terus mendesak istrinya untuk segera menikmati susu panas. Namun lagi-lagi sang istri menolaknya. Perdebatan panjang itu membuat susu yang panas menjadi dingin. Nah, saat susu menjadi dingin itulah perempuan tua itu justru meminumnya.
Wajah sang istri tiba-tiba memucat. Ia terlihat akan muntah. Sang suami menjadi sangat bingung. Ia segera menghampiri istrinya di atas kursi goyang dan akan memijat pundak perempuan yang rambutnya memutih itu. Tapi tangan sang suami ditepiskan.
Sang suami masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian ia keluar kembali sambil membawa sebotol minyak angin. Segera ia berikan kepada istrinya. Sang istri lantas membuka tutup botol minyak angin dan sesekali menghirup baunya. Tak ada percakapan di antara keduanya. Hanya tatapan mata keduanya sesekali beradu.

Kekecewaan perempuan kepada suaminya itu timbul setelah dirinya menelan susu yang ternyata sudah dingin. Hal itu membuat perempuan tua itu membenci suaminya. Bahkan hilang perasaan cintanya. Lelaki tua itu meminta maaf kepada perempuan di depannya sambil meminta rasa cinta yang hilang itu kembali lagi.
Hanya saja, perempuan tua itu menolak permintaan suaminya. Lelaki tua itu tetap berharap cinta sang istri kembali dengan permohonan maaf yang berulang. Akhirnya setelah perdebatan yang cukup panjang dan permohonan maaf kesekian kali dari sang pria, perempuan tersebut membuka hati dengan syarat, pria itu harus bernyanyi di hadapannya.
BACA JUGA:
Teater Institut Pentaskan Naskah George Orwell
Namun lagi-lagi, nyanyian dari suaminya memantik kembali perdebatan panjang. Perempuan tua itu cemburu karena lagu yang dinyanyikan tersebut mengingatkan sang suami dengan mantan kekasihnya. Karena lagu itu pula pertengkaran kecil antara pasangan suami istri itu kembali terjadi.
Hingga akhirnya, perempuan tua itu tetap menolak untuk kembali mencintai suaminya, karena suaminya tidak bisa melupakan mantan kekasihnya yang merupakan seorang guru. Sang istri masuk ke dalam rumah, segelas susu dingin masih tersisa di atas meja. Semuanya sepi. Tak ada tanya, tak ada jawab. Tepuk tangan penonton pun langsung pecah.
Pentas di Empat Kota

Itulah penampilan Komunitas Ginyo Lamongan. Kelompok ini menampilkan naskah teater realis yang berjudul ‘SIH’ di angkringan Rebung Desa Mojokrapak Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang, Sabtu (29/4/2023) malam. Puluhan penonton hadir menyaksikan pentas tersebut.
Utamanya, para pegiatn teater yang ada di Jombang. Bahkan anggota Dewan Pers Sapto Anggoro juga menyaksikan pementasan lakon tersebut. Ditemani pegiat teater Jombang Imam Ghozali, Sapto menyaksikan dari awal hingga akhir.
Baik Sapto maupun Imam Ghozali juga memberikan apresiasi atas penampilan Komunitas Ginyo Lamongan. Serta memberikan sejumlah masukan. Tidak ketinggalan pula penulis naskah ‘SIH’ Andi Kepik yang menikmati penampilan tersebut.
BACA JUGA:
5 Tahun Perjalanan Saung Teater, dari Panggung ke Panggung
Luqman Thohek yang didapuk sebagai sutradara menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan oleh para sesepuh teater di Jombang. Karena dengan masukan tersebut semakin menyempurnakan penampilannya ke depan.
Luqman menjelaskan, naskah tersebut dipentas secara keliling di empat kota, Di antaranya, Lamongan pada 12 Maret 2023, kemudian pentas di Solo pada 17 Maret 2023, kemudian di Gresik pada 6 April 2023. “Terakhir di Jombang, Sabtu 29 April 2023,” ujarnya.
Dua pemain yang memerankan sosok lelaki tua dan istrinya itu adalah Alfin Nur Cahyono dan Evi Lupitasari. Menariknya, kedua pemain tersebut benar-benar pasangan suami istri. “Jadi saat proses penggarapan naskah ini terkadang sembari momong anak,” ujar Luqman. [suf]






