Mojokerto (beritajatim.com) – Sebagai simbol Kampung Durian, Pemerintah Desa Duyung di Kecamatan Trawas berencana mendirikan prasasti setelah dicanangkan Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati, 4 Maret 2023 lalu.
Kepala Desa (Kades) Duyung, Juniarto Bambang S mengatakan, selain ada penandatanganan Kampung Durian oleh Bupati Mojokerto, Pemdes Duyung akan mendirikan prasasti. “Iya rencananya akan didirikan prasasti,” ungkapnya, Sabtu (8/4/2023).
Prasasti tersebut akan didirikab sebagai simbol agar masyarakat tahu jika Desa Duyung adalah Kampung Durian yang ada di Kabupaten Mojokerto. Kades menjelaskan, penjualan durian sebagai mata pencaharian masyarakat Desa Duyung dilakukan secara natural.
“Tetap, nasyarakat yang berjualan durian membuka lapak di depan rumah masing-masing. Saat ini sudah ada lebih dari 50 lapal, terbanyak ada di Dusun Bantal. Dibuat natural begitu saja, nantinya akan Pasar Sawah Sabtu-minggu. Pengunjung yang datang ke Duyung bisa menginep di home stay yang didirikan di pinggir sungai,” katanya.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/erick-thohir-tetap-cawapres-terkuat-untuk-koalisi-apapun/
Dengan ada simbol dan Pasar Sawah yang ada di setiap akhir pekan, Kades berharap, masyarakat yang datang ke Desa Duyung semakin banyak. Dengan banyaknya yang datang ke Desa Duyung, diharapkan bisa mendongkrak perekonomian masyarakat Desa Duyung.
“Kita akan gali potensi lain di desa kami, selain Durian Mrico sebagai durian lokal Desa Duyung, kami juga punya produk lain yang bisa dijual. Ada madu asli, alpukat, pete dan jamur. Home industri jamur di Duyung ada 35 orang dikelola oleh PKK. Dan itu pemintaan lebih banyak daripada produksinya,” katanya.
Kades menjelaskan, jika saat ini sudah terbentuk Komunitas Penjual Durian sehingga harga durian yang ditawarkan antara pedangang satu dan lainnya sama. Sehingga masyarakat yang datang ke Desa Duyung tidak perlu khawatir dengan harga.
Permintaan durian lokal di Desa Duyung cukup banyak, bahkan para pedangan tidak bisa memenuhi permintaan sehingga mendatangkan durian dari luar. Saat kondisi seperti itu, lanjut Kades, pedangan akan menyampaikan ke pembeli jika durian yang dijual bukan durian lokal.
“Akan disampaikan, jika mau akan dilayani. Ramai bisa lebih dari 3 ribu buah saat weekend. Selain jika durian yang dibelu dalam kondisi jelek saat dibuka di rumah, bisa foto nanti diganti atau durian bagus tapi rasanya kurang manis bisa diganti kalau kembali lagi ke kampung durian. Sehingga nanti pedagang klaim ke petani-nya,” tuturnya.
Ini lantaran pedagang durian di Desa Duyung tidak akan rugi karena kalau jelek akan kembali ke petani. Saat durian di lapaknya habis maka pedangan tersebut akan mengambilkan di pedangan lain karena sekarang sudah terbentuk Komunitas Penjual Durian.
Salah satu warga sekaligus pedagang durian, Anton (46) mengaku, dengan adanya Kampung Durian sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama dapat mendongkrak perekonomian di Desa Duyung. “Semenjak ada Kampung Durian banyak pengunjung yang ramai ke desa kami,” ujarnya.
Sehingga secara otomatis mengangkat perekonomian dan menyejahterakan warga. Menurutnya, pohon durian lokal jenis Mrica yang banyak tumbuh di Dusun Bantal adalah peninggalan nenek moyang. Masyarakat kini meraih rezeki dari penjualan durian yang melimpah tersebut. [tin/kun]
![Sebagai Simbol Kampung Durian, Pemdes Duyung di Trawas Akan Bangun Prasasti Durian lokal Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Durian Mrico. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/04/IMG_20230408_212839_XNGQV0XQ9q.jpeg)
![Durian lokal Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Durian Mrico. [Foto : ist] Durian lokal Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Durian Mrico. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/04/IMG_20230408_212958_eeZc70Kc7y.jpeg)





