Mojokerto (beritajatim.com) – Satu dari 14 asrama di Pondok Pesantren (Ponpes) Bidayatul Hidayah di Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto adalah Asrama Al Qurthuby. Tak hanya bisa mengaji, para santri-santriwati di asrama ini diajarkan untuk menjadi seorang entrepreneur.
Asrama Al Qurthuby yang merupakan asrama ke-14 Ponpes Bidayatul Hidayah ini didirikan pada 2016 lalu. Para santri diajarkan tidak hanya bisa mengaji dan menguasai ilmu agama Islam namun juga menjadi pengusaha sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan masing-masing.
Pengasuh Asrama Al Qurthuby, Ponpes Bidayatul Hidayah, H Nurul Fathan Ubaidillah mengatakan, Asrama Al Qurthuby didesain sesuai biografi pengasuh. “Kita tidak ingin santri bermalas-malasan. Kita ingin menolak pernyataan jika anak pesantren saat keluar tidak bisa apa-apa,” ungkapnya, Selasa (4/4/2023).
Bisanya hanya mengaji namun di Asrama Al Qurthuby, Gus Fathan, ada beberapa program usaha yang ditawarkan kepada para santriwan-santriwati untuk menjadi pribadi yang mandiri. Harapannya saat keluar dari ponpes bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat secara keseluruhan.
“Di sini ada beberapa program usaha yang kita tawarkan, mulai dari pertanian, perikanan, perkebunan, pertukangan, pertokoan dan lain sebagiannya. Harapan kami anak-anak pulang ke rumah, dia sudah bisa, dia sudah mampu untuk usaha secara pribadi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri,” harapnya.
Gus Fathan mengaku selalu berpesan kepada para santri-santriwati jika ia tidak ingin menjadikan para santri-santriwati menjadi buruh. Namun ia ingin menjadikan para santri-santriwati sebagai seorang juragan. Menurutnya itu menjadi motto dari Asrama Al Qurthuby, Ponpes Bidayatul Hidayah.

“Asrama Al Qurthuby diambil dari gelar putra dari pendiri Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah, Romo Kyai Haji Syaifuddin Chalik yang dijuluki sebagai Kakanda Qurthuby. Al Qurthuby sendiri adalah seorang imam besar yang beliau watadhu’ di bidang agama,” ujarnya.
Asrama Al Qurthuby berdiri pada tahun 2016 dengan sangat sederhana. Gus Fathan mengaku mendapat dukungan dan animo masyarakat kuat dan besar. Gus Fathan saat itu berharap Asrama Al Qurthuby bisa menyatu dengan masyarakat, bisa membaur dengan asrama Ponpes Bidayatul Hidayah lainnya.
Baca Juga:
Dua Asrama Penghafal Al Qur’an Terkemuka Mojokerto
“Karena pada dasarnya, santri pada waktu pulang ke rumah dia harus siap berhadapan dengan masyarakat yang serba komplek. Jadi Asrama Al Qurthuby memang asrama yang berlatar belakang Al Qur’an. Besar harapan kita Asrama Al Qurthuby ini asrama yang bisa mencetak kader-kader Al Qur’an,” katanya.
Selain itu, Gus Fathan menilai jika Asrama Al Qurthuby memiliki keunikan. Gus Fathan ingin napak tilas perjalanan para ulama kyai dan ulama terdahulu yakni tidak menerima para santri dengan biaya yang sudah ditentukan sebelumnya. Karena santri di Asrama Al Qurthuby tidak dipungut biaya.
“Tidak ada istilah budget di sini, bayar uang makan sekian, bayar SPP sekian. Alhamdulillah Asrama Al Qurthuby mulai tahun 2016 sampai saat ini, saya berharap sampai tahun-tahun selanjutnya tetap menggunakan metode ini. Di Asrama Al Qurthuby tidak ada istilah bayar,” jelasnya.
Meski tidak ada biaya, namun pihaknya mengaku tidak ingin dibilang jika santri yang mondok di Asrama Al Qurthuby gratis dari segala macam biaya. Karena Gus Fathan mengaku tidak ingin membohongi masyarakat terkait besaran biaya masuk ke Asrama Al Qurthuby, Ponpes Bidayatul Hidayah.

“Dari beberapa cerita-cerita yang ada di kitab-kitab, bawasannya mondok salah satunya harus ada modalnya tapi di sini saya ingin mengatakan di sini free. Tapi di sini tidak berbayar memang, siapa yang ingin toleransi, siapa yang empati,” tuturnya.
Yakni untuk membantu menyiapkan anak-anak sebagai militan-militan yang nantinya menjadi produk terbaik putra bangsa. Sehingga Gus Fathan selalu minta doa kepada wali santri dan masyarakat untuk bisa mendidik dan memberikan sandang, pangan dan papan di para santri-santriwati di Asrama Al Qurthuby.
Baca Juga:
Mojogeneng, Kampung Para Penghafal Al Qur’an di Mojokerto
“Di Asrama Al Qurthuby ini, tidak ada istilah kyai di sini, tidak ada istilah Gus, tidak ada istilah ustadz, ustadzah. Yang jelas di sini anak-anak saya jadi pada waktu anak-anak diserahkan kepada saya, saya ambil hak orang tua. Bahwa di sinilah orang tuanya,” tegasnya.
Menurutnya, Gus Fathan bertanggungjawab penuh atas masa depan para santri-santriwati di Asrama Al Qurthuby. Gus Fathan mengaku hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada para santri-santriwati sehingga ia selalu meminta dukungan kepada semuanya.
“Saya berharap Asrama Al Qurthuby ini bisa terus lestari, bisa terus berjalan seperti yang diharapkan orang, guru-guru kita dan Asrama Al Qurthuby sampai saat ini tidak ada donatur tetap namun saya yakin Allah SWT Maha Mengetahui,” pungkasnya. [tin/beq]






