Surabaya (beritajatim.com) – Batalnya Piala Dunia U-20 di Indonesia tentu berdampak pada semua aspek. Bukan hanya Timnas Indonesia yang pupus harapan melainkan juga para relawan yang sudah sangat ingin bisa bekerja saat gelaran Piala Dunia U-20.
Untuk bisa menjadi relawan Piala Dunia U-20 harus mengikuti pendaftaran secara bertahap. Seluruh tahapan harus dilalui dan tidak boleh ada yang terlewat.
Salah satu calon relawan, Indah Widyasari asal Lamongan bercerita mengenai pengalamannya mendaftar untuk jadi panitia pengelola Piala Dunia U-20. Dia mencoba mendaftar sebagai relawan pada Desember saat web pendaftaran telah dibuka.
Kecintaannya pada dunia sepak bola membuat Indah ingin menjadi bagian sejarah di Piala Dunia U-20. Sayangnya, mimpi itu harus gagal karena Indonesia batal menjadi tuan rumah.
Baca Juga:
Batal Tuan Rumah Piala Dunia, Pemain Timnas U20 Ungkap Kekecewaan Lewat Status
Padahal, kata Indah, untuk bisa masuk hingga tahap akhir harus melewati beberapa tahapan. Mulai dari registrasi, pemilihan posisi yang dikuasai, hingga wawancara dengan FIFA melalui zoom.
“Saya ingin menjadi bagian sejarah lewat Piala Dunia U-20 ini selain kecintaan saya akan sepak bola makanya saya mendaftar sebagai volunteer (relawan) karena kesempatan itu belum tentu ada lagi namun ternyata batal. Sangat kecewa,” ungkapnya.
Proses menjadi relawan tidaklah mudah baginya. Ketika melakukan registrasi, harus berebut untuk bisa masuk ke form pendaftaran. Bahkan tinggal satu tahap lagi yaitu wawancara, Indah sudah bisa jadi panitia.
“Ya, susah untuk pendaftaran awal, apalagi saya tinggal wawancara zoom belum saya dapat pin ternyata sudah ada kabar dibatalkan digelar di Indonesia,” imbuhnya.
Baca Juga:
Erick Thohir: Kita Harus Terima Keputusan FIFA
Sama halnya dengan Mafatihul Ibad. Terinspirasi dari para relawan di Eropa, ia pun tak mau kehilangan moment bekerja untuk Piala Dunia.
Namun usahanya pupus. Padahal dia rela meminta izin ke tempat kerjanya jika nanti pada Mei menjadi salah satu bagian sejarah di Piala Dunia.
“Ya saya sudah mati-matian melakukan registrasi supaya dapat posisi menjadi volunteer dan mencoba tantangan baru seperti apa bekerja di event internasional seperti piala dunia tapi gagal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, kata Mafa, tentu menjadi relawan di event besar ini tidak mudah. Harus bersaing dengan peserta lain dari seluruh Indonesia. [way/beq]






