Surabaya (beritajatim.com) – Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya menghidupkan kembali tradisi tret tet tet bagi Bonek. Selain mengenang masa lalu, tradisi ini kembali dihidupkan dalam upaya mendukung Persebaya berlaga tandang dengan cara yang positif.
“Sehingga saya berpesan kepada seluruh Bonek yang hari ini berangkat, tolong jaga nama besar Persebaya, tolong jaga nama besar Surabaya,” kata Eri saat memberangkatkan rombongan 500 Bonek menuju ke Kota Semarang mendukung Persebaya berlaga tandang vs PSIS Semarang, Rabu (29/3/2023).
Eri meyakini, jika Bonek dan Bonita sejati tidak akan pernah melakukan penjarahan ataupun tindakan yang melawan hukum. Namun, apabila ada suporter yang melakukan hal itu, ia memastikan bukanlah Bonek namun hanya oknum yang memakai atribut Persebaya atau Bonek.
BACA JUGA:
Bonek Janji Tak Akan Boikot Persebaya
“Karena kalau sudah ingin menjaga nama Bonek, Persebaya dan Kota Surabaya, maka dia tidak akan pernah melakukan penjarahan. Dia tidak akan pernah melakukan pengrusakan di tempat-tempat lain. Karena kita mencintai Persebaya dan mencintai kota ini dengan pembuktiannya Tret Tet Tet ini,” ujarnya.
“Karena itu jaga terus dan semoga dalam perjalanan diberikan kelancaran, keamanan dan keselamatan sampai kembali lagi ke Kota Surabaya. Dan yang pasti Persebaya menang,” sambungnya.
Sebagai langkah awal menghidupkan kembali tradisi Tret Tet Tet sejak tahun 1988, Eri bersama para pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya turut serta ikut mengawal Bonek dalam mendukung Persebaya berlaga di Semarang.
BACA JUGA:
Bonek Protes, Aji Santoso Tanggapi Positif
“Hari ini kita mulai kembali (tradisi Tret Tet Tet), karena kita harus menjaga betul nama Surabaya,” katanya.
“Dan momen-momen itulah yang akan kita buka kembali untuk semangat Bonek dan Bonita sehingga kita bisa menunjukkan bahwa sejatinya Bonek dan Bonita itu cinta damai. Kami akan mendukung Persebaya dengan sportivitas tinggi,” pungkas Eri.
Diketahui, Tret Tet Tet merupakan tradisi Bonek sejak tahun 1987/1988 dalam mendukung Persebaya Surabaya berlaga tandang. Tradisi ini dilakukan secara terkoordinir menggunakan moda transportasi secara bersama-sama, tertib, dan mentaati aturan yang berlaku. [asg/but]






