Jombang (beritajatim.com) – KH Fahmi Amrullah Hadziq baru selesai menyampaikan pengajian kitab Irsyadul Mu’minin kepada ratusan santrinya di masjid pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jumat (24/3/2023) sore. Gus Fahmi turun dari masjid, mengenakan sandal kemudian berlalu. Cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari ini berjalan perlahan.
Di samping kanan dan kiri Gus Fahmi, ratusan santri itu berdiri takzim. Berderet memanjang. Semuanya menyedekapkan tangan. Sebagai penghormatan, mereka tak berani mengangkat kepala. Pandangan mereka jatuh ke bawah saat Gus Fahmi melintas.
Di ujung barisan itu nampak seorang santri usia belasan. Seperti santri lainnya. Dia begitu takzim. Tubuhnya dibalut baju putih, bersarung dan mengenakan peci warna hitam. Setelah Gus Fahmi berlalu dia baru berani menjawab ketika saya ajak ngobrol.
BACA JUGA:
Ramadhan, Ratusan Santri Tebuireng Jombang Ikuti Kajian Kitab Klasik
Dia menjawab pendek-pendek. Menjelaskan bahwa agak paham dengan materi kitab kuning yang disampaikan oleh Gus Fahmi. “Tadi mengaji kitab Irsyadul Mu’minin. Isinya tentang riwayat hidup Nabi Muhammad SAW,” kata bocah yang duduk di kelas VII SMP Abadul Wahid Hasyim (AWH) ini.
Siapa namamu? “Rosikhul Ilmi Nabawi,” katanya dengan suara lirih.
Rosikhul kemudian mengatakan bahwa rumahnya Mojosongo Diwek Jombang, tepatnya di sebuah lembaga pendidikan bernama Bait Kata. Lho, kamu anaknya Mas Bili? “Iya,” Rosikhul mengangguk sembari tersenyum.

Santri lain yang mengikuti pengajian kilatan itu adalah Dimas Fahdiansyah (11). Sembari mendengarkan materi pengajian yang disampaikan Gus Fahmi, Dimas nampak serius memberikan makna di kitab yang ia bawa. Tangannya yang memegang pena berkali-kali menggoreskan tulisan di kitab tersebut.
Meski baru tujuh bulan manjadi santri Tebuireng, bocah asal Flores NTT (Nusa Tenggara Timur) sudah kerasan. Selama Ramadhan, Dimas mengikuti semua agenda pengajian. “Ini tadi ikut ngaji kitab Irsyadul Mukminin. Isinya tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW,” kata Dimas yang duduk di kelas VII SMP Abdul Wahid Hasyim (AWH) Tebuireng Jombang ini.
BACA JUGA:
Santri Tebuireng Jombang ‘Ngaji’ Feature
Selain Rosikhul dan Dimas, ada ratusan santri lainnya yang mengikuti ngaji kilatan setiap hari. Kegiatan di pesantren Tebuireng selama Ramadhan terdapat pengajian kilatan hingga 17 Ramadhan. Pengajian selama lima waktu, yakni setelah subuh, setelah zuhur, setelah asar, setelah magrib, serta setelah salat tarawih. Tujuannya, aga santri Tebuireng mendapatkan berkah bulan Ramadhan.
Ada puluhan puluhan kitab kuning yang dikaji. Selain kitab Irsyadul Mukminin, Tebuireng juga mengkaji kitab Hadzihi Risalah Jamiah Maqasid. Kitab ini juga karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kemudian kitab Nurudz Dzolam, karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Juga kajian Shahih Bukhari yang notabene sudah menjadi tradisi yang terus dipertahankan sejak masa pendiri Pesantren Tebuireng KH. Hasyim Asyari. [suf]






