Jakarta (beritajatim.com) – PT Pertamina Hulu Indonesia, anak perusahaan PT Pertamina Hulu Energi selaku Subholding Upstream menjalankan strategi borderless dalam pengelolaan Wilayah Kerja (WK) yang beririsan atau tumpang tindih di Kalimantan.
Salah satunya seperti yang dilakukan satu anak perusahaan PHI, yaitu PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) dengan menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan PT Pertamina EP (PEP) berbentuk Joint Operation Agreement (JOA) Borderless Phase.
Direktur Utama PHI, Chalid Said Salim mengatakan, bahwa strategi borderless dalam pengelolaan wilayah kerja yang beririsan ini merupakan langkah penting Perusahaan dalam mendukung pencapaian target produksi minyak nasional 1 Juta BOPD dan gas 12 BSCFD tahun 2030.
“Sejak transformasi Subholding Upstream Pertamina pada April 2021 lalu, kedua WK tersebut berada di bawah pengelolaan Regional 3 Kalimantan Zona 9. Oleh karena itu, kami berupaya memaksimalkan potensi migas di kedua WK tersebut untuk menghasilkan migas yang penting bagi pembangunan Indonesia,” ujar Chalid.
BACA JUGA:
PHI Terus Pastikan Operasi Migas yang Selamat dan Berwawasan Lingkungan
Chalid menjelaskan, sinergi yang dilakukan mencakup pada aktivitas pengeboran, well intervention, fasilitas produksi, operasional produksi, pengadaan barang dan jasa, perijinan, finance & komersialitas dan kegiatan pasca operasi.
Tahun ini, lanjut Chalid, Regional 3 Kalimantan Zona 9 akan melakukan pengeboran 5 sumur yang berada di wilayah kerja yang beririsan tersebut. Dua Sumur berada di wilayah North Kutai Lama (WK PEP) dan Lampake (WK PHSS), serta 3 sumur di wilayah Samberah PEP dan PHSS.
Deputi Ekplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Benny Lubiantara menyampaikan JOA Wilayah Kerja Tumpang Tindih antara PHSS dan PEP adalah terobosan yang sangat baik. “SKK Migas menghargai inisiatif dari KKKS sebagai bentuk sinergi yang menguntungkan kedua pihak dalam rangka optimalisasi wilayah kerja yang tumpang tindih. SKK Migas mendorong dan mendukung sepenuhnya JOA tersebut karena akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan wilayah kerja yang tumpang tindih,” ujar Benny.
BACA JUGA:
PHI Hasilkan Minyak 57,8 MBOPD dan Gas 668,3 MMSCFD Sepanjang 2022
Sementara Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo menambahkan harapannya agar sinergi pengelolaan wilayah kerja tumpang tindih antara PEP dan PHSS tidak hanya dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi, tetapi juga peluang meningkatnya produksi migas di kedua KKKS. Sinergi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja industri hulu migas.
Secara keseluruhan, total rencana pengeboran yang disinergikan dalam JOA Borderless Phase 1 ini sejumlah 20 Sumur pengembangan, 1 sumur pengembangan dan eksplorasi, serta 59 workover yang dioperatori oleh PHSS
Pada kesempatan yang sama, General Manager Zona 9, Andre Wijanarko, menyampaikan bahwa sinergi ini dapat memberikan nilai tambah dalam hal peningkatan produksi dan cadangan, efisiensi biaya, optimalisasi fasilitas eksisting, monetisasi gas PEP, percepatan eksplorasi dan pengembangan lapangan, efisiensi pengadaan barang dan jasa dan hal lainya.
BACA JUGA:
PHI Berhasil Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca
“Kerja sama sinergi antara PEP dan PHSS dapat menjadi benchmark bagi pengelolaan wilayah kerja lainnya dengan kondisi yang serupa di Indonesia sehingga potensi migas yang ada dapat terbuka untuk mendukung peningkatan produksi migas nasional,” kata Andre. [hen/suf]






