Surabaya (beritajatim.com) – Israel mengalami dejavu di dunia sepak bola. Setelah selama bertahun-tahun bisa mulus bermain di semua turnamen karena restu FIFA, kini mereka menghadapi penolakan dari Indonesia, sebagaimana terjadi pada 23 Juni 1957. Saat itu Presiden Soekarno memerintahkan tim nasional Indonesia tidak bermain melawan Israel dalam play-off kualifikasi Piala Dunia 1958.
Lima dasawarsa setelah meninggalnya Soekarno, suara penolakan kembali terdengar, dan bahkan lebih keras. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sudarnoto Abdul Hakim menyatakan, semua organisasi kemasyarakatan Islam menolak keikutsertaan Israel dalam Piala Dunia U20 yang diadakan di Indonesia.
Sebagian kalangan menuduh sikap ini dilatarbelakangi sentimen agama. Namun Partai Keadilan Sejahtera melalui Muhammad Nasir Djamil menampiknya. Ini soal sikap terhadap penjajahan dan kemanusiaan. “Israel ini seperti satu negara yang tidak tersentuh, saluran hukum internasional, organisasi internasional, bahkan kekuatan kemanusiaan seolah-olah mandul pada negara ini. Jangan sampai Indonesia mandul menghadapi Piala Dunia U-20 ini,” katanya.
Penolakan yang belakangan disuarakan Gubernur Bali Wayan Koster dan pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Timur semakin meminggirkan anggapan bahwa penolakan terhadap Israel berlatar belakang agama.
“Sikap penolakan PDI Perjuangan Jawa Timur ini didasarkan pada komitmen solidaritas terhadap perjuangan Bangsa Palestina atas perlawanan menghadapi aneksasi, penjajahan dan pembunuhan yang terus dilakukan oleh Israel terhadap Bangsa Palestina,” kata Pelaksana Tugas Ketua PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah.
Sejarah menunjukkan Indonesia memang tidak pernah main-main dalam urusan solidaritas kepada Palestina, termasuk dengan mengorbankan kepentingan nasional untuk bermain dalam Piala Dunia Swedia 1958. Saat itu Maulwi Saelan dan kawan-kawan diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan sepak bola di Asia. Mereka berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0 dalam Olimpiade Melbourne 1956 dan menjadi runner-up Turnamen Merdeka 1957 di Kuala Lumpur.
Tergabung dalam Grup I Asia-Afrika saat kualifikasi Piala Dunia 1958, Indonesia lolos ke putaran selanjutnya setelah menyingkirkan China dengan skor agregat 5-4 (2-0, 3-4). Perjalanan menuju Swedia terhenti setelah dinyatakan kalah WO karena menolak bermain melawan Israel.
Bukan hanya Indonesia yang menolak bertanding melawan Israel kala itu. Sebelumnya Turki juga menolak. Begitu juga Sudan dan Uruguay. Belakangan Israel gagal terbang ke Swedia karena dikalahkan Wales 0-2 dalam pertandingan kandang dan tandang. Tahun 1970, giliran Korea Utara menolak bermain dalam pertandingan kualifikasi melawan Israel.
Tiga puluh tahun kemudian, sembilan pemain Austria menolak bermain di Israel dalam kualifikasi Piala Dunia 2002. Mereka menyebut Israel terlalu berbahaya untuk dikunjungi karena pergolakan politik dengan Palestina. FIFA tak peduli dan tetap memaksakan pertandingan digelar di stadion Ramat Gan, Tel Aviv. Kali ini Israel kembali tak lolos ke Piala Dunia.
Tulah gara-gara Israel juga dialami pemerintah Ghana. Mereka diprotes sejumlah negara muslim seperti Mesir, Libia, Maroko, Arab Saudi, dan Suriah, gara-gara John Pantsil, pemain timnas Ghana yang bermain untuk klub Hapoel Tel Aviv, mengibarkan bendera Israel saat merayakan kemenangan 2-0 atas Republik Ceko, dalam Piala Dunia 2006. Tindakan itu dinilai melukai perasaan 16 persen muslim di Ghana.
Menteri Luar Negeri Nana Akufo-Addo akhirnya meminta maaf. Ia menyesalkan pemain yang sama sekali tidak memahami dampak politik tindakan tersebut. Pantsil pun menjelaskan, bahwa tindakannya tersebut bukan untuk mendukung Israel namun ditujukan kepada kawan-kawannya asal Israel yang nonton pertandingan di stadion. [wir]






