Malang (beritajatim.com) – Program Studi (Prodi) Pendidikan Dokter Spesialis (PDS) Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) Malang mengirim 14 orang untuk melangsungkan residensi clinical rotation (stase) di Malaysia. Keempat belas orang itu juga akan belajar soal teknologi nuklir dan tata laksana penanganan pasien pada dua Perguruan Tinggi terkemuka di Malaysia.
Mereka belajar di kampus Universiti Putera Malaysia (UPM) dan Universiti Kebangkitan Malaysia (UKM) selama 1 bulan. Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati P.W. M. Kes., Sp. Rad (K) menjelaskan bahwa kegiatan kolaborasi tersebut sebagai wujud kerjasama Mou dan MoA yang dilakukan FK UB dengan UPM dan UKM semenjak tahun 2020.
“Ini merupakan bentuk aplikatif dari kerjasama. Kita mengirimkan Prodi PDS untuk stase disana 1 bulan dan sampai saat ini kami telah mengirimkan 14 orang dengan selama 7 bulan terakhir dari bulan September 2022 lalu,” ujar perempuan yang akrab disapa Prof Yuyun itu, Selasa (21/2/2023).
Ditambahkannya oleh Guru Besar yang pernah FKUB ini bahwa FK ingin memberikan atmosfer pendidikan di luar negeri. Hal tersebut juga sesuai dengan penyampaian WR IV Universitas Brawijaya saat Raker Fakultas Kedokteran.
“Diharapkan para PPDS kita selain memperoleh ilmu juga bisa melihat bagaimana Radiolog di sana bekerja, kehidupan dan hubungan antara dokter dengan pasien di sana. Harapannya nantinya ilmu yang telah diperoleh bisa diaplikasikan saat bekerja,” jelasnya.
Terpisah, 2 orang perwakilan Prodi PDS Radiologi yang sudah dikirim ke 2 Universitas mengaku bangga dan bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Menurut mereka tidak semua PPDS pada Prodi atau universitas lain belajar hal baru, ilmu baru dan kultur yang cukup beda dengan di Indonesia.
Wisniardhy, alumni dari FKUB tahun 2013 misalnya mengaku tidak pernah membayangkan akan berkesempatan belajar teknologi nuklir untuk kesehatan dalam penanganan dan diagnosa stroke di Malaysia. “Kami belajar banyak hal, dimana ini adalah pengalaman pertama saya terbang keluar negeri dan saya tidak pernah membayangkan,” kata dr. Wisniardhy.
Hal serupa disampaikan dr.Wisni yang dikirim ke UPM bagian Radiologi. Ia merasa belajar banyak tentang nuklir PET CT. Dari pengalamannya ia belajar tentang Radiologi Nuklir yang membutuhkan beberapa persyaratan untuk dipenuhi.

“Saya melihat Radiologi Nuklir dengan beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi untuk pembuatan atom dan radionuklir karena di sana dekat dengan pusat radio nuklir tentunya akan mempermudah transfer, sementara di Malang jarak tempuh dengan pusat nuklir jauh maka akan mengurangi masa transfer selain risiko waktu paruh akan cepat habis,” ujarnya.
Fasilitas Radiologi Intervensi di Malaysia sangat berbeda, disana adalah pusat stroke (neuro) MRI yang buka 24 jam, karena kasus akut tidak bisa dilihat dari CT Scan . Penanganan kasus stroke di Malaysia begitu cepat baik kasus sumbatan maupun kasus perdarahan dengan cepat akan dilaksanakan melalui Trombektomi.
BACA JUGA:
UB Malang Dibanjiri Pendaftar SNBP, Ada 39.842 Orang
Penjelasan Pakar UB Malang Soal Kasus Robot Trading ATG Wahyu Kenzo
UB Malang Juara Umum ‘Mandalika Essay Competition 2023’
Teknologi Nuklir untuk penanganan Stroke dalam kasus yang terjadwal dalam 1 hari , dan tingkat kesadaran masyarakat nya untuk memeriksakan diri begitu tinggi. “Saya merasa ini menyenangkan dan orangnya sangat welcome mereka bersedia dengan senang hati memberikan ilmu nya,” katanya.
Dia berharap agar kegiatan ini tetap terjalin kerjasama yang baik. Menurutnya belajar di Malaysia tidak bisa didapatkan di bagian lain. “Mungkin nanti bisa menjalin kerjasama lebih luas lagi agar junior kita nantinya bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas lagi,” pungkasnya. [dan/but]






