Malang (beritajatim.com) – ESSIL, produk garapan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang diklaim ampuh untuk pembasmi lalat. Alat tersebut juga berfungsi sebagai pestisida sekaligus disinfektan alami yang dibuat dari daun kemangi.
Inovasi ini berhasil menarik perhatian juri pada ajang Green Wave Environmental Care Project For Schools 2022 yang dihias Sembcorp Marine di Singapura. ESSIl dianggap memiliki nilai jual dan keterbaruan yang tinggi sehingga berhak meraih juara dua di ajang tersebut.
Selain itu, penggunaan daun kemangi di bidang industri yang masih asing bagi masyarakat turut menarik perhatian juri. Tim yang beranggotakan lima mahasiswa itu diundang menghadiri acara penghargaan di Park Royal Collection Marina Bay, Singapura, pertengahan Februari 2023 lalu.
Co-researcher, Viska Rinata, menjelaskan alasan inovasi itu dapat tercipta akibat tingginya peledakan populasi lalat yang disebabkan peternakan ayam di Trenggalek, Jawa Timur. Tingginya jumlah peternakan ayam yang beroperasi aktif di Trenggalek menyentuh angka 3.272.238, sehingga memicu ledakan populasi lalat secara drastis dan mengganggu masyarakat.
“Siapa sih yang nggak terganggu sama lalat, lalat itu annoying banget. Selain annoying, resiko penyakit dari bakteri yang dibawa lalat itu lebih tinggi daripada serangga lain, seperti kecoa dan sebagainya,” kata mahasiswa S1 Biologi UM itu, Senin (13/3/2023).
Akibat hal itu, Viska dan tim tidak diam saja. Mereka mencari solusi yang ekonomis dan mudah dijangkau sehingga dapat digunakan secara maksimal oleh masyarakat sekitar. Dia pun mengamati lingkungan sekitar dan menemukan banyak petani kemangi di sekitar Trenggalek.
“Sayangnya, daun kemangi lumrah dimanfaatkan hanya sebagai lalapan atau makanan pendamping sambal dan nasi yang tentu memiliki harga jual rendah. Sebenarnya di daerah itu (Trenggalek) sudah ada masalah dan solusi yang tepat, namun belum terintegrasi dengan baik. Nah, dari situ muncul ide membuat inovasi ini,” kata perempuan dari Trenggalek itu.

ESSIL, kata Viska, dibuat dari berbagai daun, yaitu kemangi, cengkeh, dan kulit jeruk nipis yang punya nilai jual rendah, bahkan cenderung jadi limbah. “Bahan dasar produk ini adalah daun kemangi serta memiliki bahan aktif methyl clavicle dan cineol yang tak disukai oleh lalat. Ditambah dengan cengkeh dan kulit jeruk nipis yang berfungsi antimikroba untuk produk ini punya nilai keterbaruan yang tinggi,” paparnya.
Berdasarkan uji yang dilakukan, ESSIL punya persentase efektifitas tinggi untuk mengusir lalat pada angkat lebih dari 90%. Bukan hanya itu, dari uji organoleptik semua penguji menyatakan rasa sukanya pada aroma dan tekstur dari ESSIL.
Viska juga mengklaim jika alat ini sudah memakai teknologi nano fogging gun. Hal itu berguna untuk penyemprotan produk dapat dilakukan lebih cepat, rata, dan tepat sasaran. Menariknya, Inovasi ini sudah dapat digunakan di rumah yang terdampak ledakan populasi lalat.
“Jadi selain sebagai repellent lalat, ESSIL juga berfungsi sebagai desinfektan untuk pembersihan sisa bakteri yang ditinggalkan lalat sehingga bisa meminimalkan resiko diare, penyebaran polio, disentri, dan lainnya. Ini produk berkelanjutan yang ramah lingkungan dan minim resiko untuk kesehatan masyarakat maupun lingkungan,” ujar Viska.
[berita-terkait number=”4″ tag=”um”]
Perempuan yang kini berusia 21 tahun itu berharap agar produk buatannya bersama tim bisa dikembangkan sehingga berguna secara komersial di bidang peternakan. Saat ini produksi masih dilakukan skala kecil akibat keterbatasan biaya dan sumber daya, namun produk ESSIL punya nilai jual tinggi untuk dikomersilkan di bidang peternakan.
“Aku berharap produk ini bisa menjadi produk yang berguna untuk oleh banyak orang di masa depan. Fokus riset aku itu kan di green industry, jadi aku berharap produk ini dapat dikembangin dan jadi core dari green industry yang ingin aku bangun di masa depan,” pungkasnya menyampaikan mimpi besar. [dan/but]






