Jember (beritajatim.com) – Bupati Jember, Hendy Siswanto merencanakan pembangunan bendungan untuk mencegah banjir di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan dibiayai anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) setempat.
Keinginan ini didasarkan pada kondisi Jember yang tak pernah absen dari banjir saat hujan mengguyur. “Jika tak ada ada penanganan yang serius, akan sangat berisiko pada akhir tahun ini,” kata Hendy kepada beritajatim.com, Senin (6/3/3023).
Hendy memperkirakan dibutuhkan setidaknya sepuluh bendungan untuk mencegah banjir. Ongkosnya tak main-main. “Minimal butuh Rp 250-300 miliar,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-jember”]
Pemerintah Kabupaten Jember sebenarnya berharap ada suntikan anggaran dari pemerintah pusat maupun provinsi untuk membangunnya. “Jika untuk penanganan hulu, (memakai) APBD cukup berat,” kata Hendy.
Namun Hendy menyadari, tak bisa berharap sepenuhnya menunggu bantuan pusat. Tak ada jalan lain kecuali membangun bendungan secara mandiri dengan kekuatan APBD 2024. “Sudah kita pikirkan untuk membangun di bagian hulu dengan biaya Rp 100 – 150 miliar. Tepatnya di lahan area Perhutani di Kecamatan Panti bagian atas,” katanya.
“Dengan dibangun bendungan itu, manfaatnya banyak sekali. Selain untuk mengendalikan banjir, juga untuk mengaliri sawah yang terukur. mengeruk sedimentasi atau pendangkalan, lokasi wisata, yang ujung-ujungnya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya pertanian,” kata Hendy.
Hendy tak mau terburu-buru menjelaskan rincian rencananya itu. Ia masih harus mendiskusikannya dulu dengan organisasi perangkat daerah dan DPRD Jember. “Soal ada tidaknya anggaran, itu yang harus dipertimbangkan dan didiskusikan,” katanya.
Sementara itu, Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat, debit air Sungai Kalijompo sempat naik kembali pada Minggu (5/3/2023). “Berdasarkan pemantauan dari tim reaksi cepat dan relawan di sungai Kalijompo sungai Kalijompo, kenaikan debit air sempat kurang lebih 300 centimeter,” kata Sekretaris BPBD Jember Heru Widagdo.
Namun pada pukul 17.20, debit air Kalijompo turun jadi kurang lebih 140 centimeter. “Luapan air dari sungai di pemukiman warga mulai surut,” kata Heru. [wir/kun]






