Bojonegoro (beritajatim.com) – BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jatim membentuk kelompok Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) di Kabupaten Bojonegoro. Desa yang dipilih adalah wilayah yang memiliki potensi bencana yaitu Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan.
Desatana di wilayah tambang minyak tradisional itu kali pertama dan satu-satunya di Bojonegoro yang dibentuk BPBD Jatim. Desa Wonocolo salah satu desa yang diprioritaskan di Kabupaten Bojonegoro karena memiliki potensi bencana longsor dan kegagalan teknologi dari aktivitas tambang minyak tradisional.
Kepala Desa Wonocolo, Sarmanto mengatakan, pembentukan Destana itu anggotanya diambil dari masyarakat setempat untuk mendapat pelatihan penanggulangan bencana. Sebelumnya, lanjut dia, di wilayahnya juga beberapa kali terjadi tanah longsor hingga sudah ada rumah yang direlokasi.
“Peserta diikuti oleh tokoh masyarakat, karang taruna, BPD, perangkat desa, dan bidan desa. Mereka mendapat pelatihan selama 7 hari terkait kebencanaan,” ujarnya, Senin (27/2/2023).
Sementara Camat Kedewan Palupi Hadi Ratih Dewanti mengungkapkan, di Desa Wonocolo sendiri pada 2022 lalu sudah ada 9 titik lokasi tanah longsor dan ambles. Dengan adanya Destana di Desa Wonocolo diharapkan bisa membantu masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
Baca Juga: Empat Hari Akses Jalan Lingkungan di Kalisari Bojonegoro Banjir
“November 2022 termasuk bencana terbesar setelah 1995. Ada 9 titik tanah longsor dan ambles. Beberapa rumah warga juga sudah ada yang direlokasi karena dampak tanah longsor,” terangnya.
Sementara Penata Penaggulangan Bencana BPBD Jatim, Sriyono mengungkapkan, kegiatan ini dilakukan untuk mitigasi bencana, sehingga mengetahui potensi dan apa yang harus diperkuat. “Penanganan bencana ini tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi bersama-sama pemerintah, masyarakat dan pelaku dunia usaha,” terangnya.
Baca Juga: Luapan Sungai Bengawan Solo, 7 Desa di Bojonegoro Panen Padi Paksa
Di Desa Wonocolo sendiri juga banyak pengeboran minyak secara tradisional serta kondisi geografis yang ada di perbukitan sehingga rawan terjadi bencana longsor dan kegagalan industri pengeboran minyak tradisional. “Di sini ada Pertamina sebagai pemilik wilayah tambang yang juga punya tanggung jawab, termasuk TNI-Polri,” pungkasnya.
Untuk diketahui wilayah Jawa Timur sendiri ada 14 ancaman bencana. Potensi bencana yang terjadi itu yakni, banjir, banjir bandang, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, kegagalan teknologi, kekeringan, pandemi Covid-19, epidemi dan wabah penyakit, letusan gunung api, cuaca ekstrim, tanah longsor, tsunami, kebakaran lahan dan hutan, serta likuifasi. [lus/beq]






