Jember (beritajatim.com) – Perubahan daerah pemilihan (dapil) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dari enam menjadi tujuh daerah membuat jumlah kursi di masing-masing dapil berubah. Ini membuat persaingan calon legislator petahana menjadi lebih ketat.
Perubahan dapil ini tentu membuat para caleg petahana harus bekerja ekstra keras dan cermat dalam menyusun strategi, karena kelebihan yang mereka punyai selama lima tahun di parlemen untuk memelihara hubungan dengan konstituen menjadi sia-sia. Perubahan jumlah yang diikuti perubahan komposisi wilayah membuat ada banyak kecamatan yang berpindah dapil.
Legislator Gerindra Siswono mengibaratkan caleg petahana DPRD Jember seperti petani yang harus memulai dari awal proses budidaya “Tanaman yang kita rawat selama empat tahun, tinggal memetik buahnya. (Tapi dengan perubahan dapil) kita harus menanam dan merawat lagi, dan dalam waktu singkat harus berbuah,” katanya, mengacu pada hitung mundur jadwal pemilu yang tersisa kurang lebih setahun lagi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pemilu-jember”]
Siswono mengaku kehilangan kurang lebih empat ribu suara yang diperoleh dari Kecamatan Ajung dan Sumbersari dengan adanya perubahan dapil tersebut, Hal ini dikarenakan Kecamatan Ajung dan Sumbersari pindah ke Dapil Jember 1. “Potensi suara hilang sangat signifikan. Saya selama ini merawat pemilih milenial di Sumbersari,” katanya, ditulis Selasa (21/2/2023).
Tapi apa mau dikata. “Bismillah saja,” kata Siswono.
Siswono harus lebih intensif berkomunikasi dengan konstituen, terutama di Kecamatan Silo. Ini dikarenakan, dalam Pemilu 2024, Silo berada di Dapil Jember 4 bersama Kecamatan Mumbulsari yang merupakan basis pendukungnya. Sementara Silo adalah basis pemilih Sunardi, rekan satu partai Siswono di DPRD Jember.
“Saya harus ada komitmen dengan Pak Sunardi, karena di Dapil Jember 4 hanya ada empat kecamatan dengan enam kursi. Otomatis ketika ada dua incumbent, bagaimana kita menjalin hubungan baik-baik dan harmonis, hubungan kekeluargaan tetap dijaga,” kata Siswono.
Komunikasi dua kandidat legoslator petahana ini melahirkan kesepakatan. “Pak Sunardi menggarap Kecamatan Mayang dan Silo, saya menggarap Kecamatan Tempurejo dam Mumbulsari,” kata Siswono.
Persaingan paling ketat bakal terjadi di Dapil Jember 3 dan Jember 4, karena jumlah kursi yang berkurang cukup banyak. Dapil Jember 3 meliputi Jelbuk, Kalisat, Ledokombo, Sukowono, Sumberjambe. Dapil Jember 4 meliputi Tempurejo, Mumbulsari, Mayang, Silo.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pemilu-2024″]
Jika dalam Pemilu 2019, ada sembilan anggota DPRD Jember yang terpilih di Dapil Jember 3 dan 10 legislator yang berangkat dari Dapil Jember 4, maka pada Pemilu 2024, masing-masing dapil itu mendapat kuota hanya enam kursi. Ini berarti bakal ada sejumlah petahana yang tersingkir jika tetap bertahan di dapil masing-masing.
Agus Khaeroni, legislator Partai Amanat Nasional d DPRD Jember, kehilangan potensi suara di Kecamatan Rambipuji. “Tapi insya Allah tidak akan berpengaruh, karena bukan basis pendukung saya. Saya tetap bergerak seperti biasa. Namanya saja kami wakil rakyat,” katanya.
Budi Wicaksono, legislator DPRD Jember dari Partai Nasdem, tetap percaya diri dengan perubahan daerah pemilihan. “Karena perubahan dapil ini sudah jadi keputusan Komisi Pemilihan Umum RI, kita harus siap,” katanya.
Sebagaimana Siswono, Budi mengakui, perubahan dapil membuat caleg petahana merintis dari awal sebagaimana caleg baru. “Target Nasdem minimal 12 kursi DPRD Jember. Insya Allah bisa. Paling tidak kami harus menyiapkan caleg-caleg potensial dan pemetaan wilayah,” katanya.
Nasdem berharap merebut dua kursi di Dapil Jember 5, dua atau tiga kursi di Dapil Jember 6, dan dua kursi di Dapil Jember 2. “Saya bismillah saja. Namanya saja dapil berubah. Bismillah, siap,” kata Budi.
Budi sudah mengantongi modal sosial untuk meraih dukungan warga. Selama ini ia menjadi pembina ribuan orang anggota rukun kematian tingkat kampung di Jember. “Insya Allah teman-teman solid semua,” katanya. [wir/suf]






