Jember (beritajatim.com) – Partai Demokrat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tak terlampau berharap efek ekor jas Pemilihan Presiden 2024 akan bisa menambah kursi di DPRD setempat. Situasi politik saat ini berbeda dengan masa pada saat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden.
“Politik di Jember berbeda sekali dengan politik di pusat. Sepertinya tidak ada pengaruhnya. Jadi coat tail effect atau efek ekor jas di Jember masih lebih pada (aspek) kultural,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Jember Try Sandi Apriana, ditulis Senin (20/9/2023).
Demokrat pernah merebut kursi Ketua DPRD Jember pada 2009-2014, karena saat itu SBY menjadi presiden. “Tapi ketika Pak SBY tidak memimpin lagi, kembali ke kultur semula: pengaruh hijau dan merah lebih signifikan,” kata Sandi. Hijau adalah sebutan untuk kelompok nahdliyyin dan merah adalah sebutan untuk kelompok nasionalis.
[berita-terkait number=”5″ tag=”demokrat-jember”]
Menurut Sandi, Pemilu 2024 adalah tantangan bagi Demokrat untuk meraih banyak kursi di DPRD Jember. Saat ini, sesuai Pemilu 2019, Demokrat hanya punya dua kursi sehingga harus bergabung dengan Golkar dan Partai Amanat Nasional menjadi Fraksi Pandekar.
Seluruh pengurus, kader, dan calon legislator Demokrat harus melakukan pendekatan lebih serius lagi terhadap masyarakat. “Jadi kerja keraslah,” kata Sandi.
Sandi mamasang target tujuh kursi DPRD Jember. “Dengan adanya pemekaran dapil ini, kami malah bisa memecah suara. Ada tujuh kursi utama, masing-masing dapil satu kursi. Satu dapil lagi bisa menambah satu kursi,” kata Sandi.
Sandi percaya dengan kemampuan semua caleg Demokrat. “Kalau melihat kemampuan mereka, insya Allah mereka adalah orang yang pernah berorganisasi di masyarakat. Banyak caleg muda di Demokrat. Rata-rata berusia di bawah 40 tahun,” katanya. [wir/kun]






