Mojokerto (beritajatim.com) – Lingkungan Karanglo I/32, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto dicanangkan sebagai Kampung Lele. Di Kampung Lele, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Wahyu Lele 2 menggunakan sistem bioflok dengan pakan full pelet (buatan pabrik).
Dengan budidaya lele sistem bioflok, air kolam tidak berbau seperti budidaya lele biasa karena kualitas air kolam sangat terjaga. Karena diberi probiotik yang berfungsi mengurai sisa-sisa pakan, ikan lele juga dapat tumbuh maksimal.
Sistem bioflok ini juga mampu memangkas masa panen lebih cepat. Selain itu, rasa lele yang dihasilkan juga lebih enak dibanding budidaya lele biasa. Delapan bulan berdiri Pokdakan Wahyu Lele 2 memiliki 14 anggota dengan jumlah 42 kolam bundar sehingga dikenalkan sebagai Kampung Lele,
Awalnya, bibit ikan lele sebanyak 5.000 ekor dengan ukuran panjang 3 cm ditebar di kolam bulat berdiameter 2 meter. Setiap 10 hari sekali, ikan disortir untuk dipilah sesuai ukurannya. Setelah disortir ikan dipisah menjadi dua kolam, setiap kolam diisi 2.500 ekor sesuai ukuran.
Penyortiran dilakukan minimal empat kali, setelah 60 hari ikan lele sudah bisa dipanen. Panen di Pokdakan Wahyu Lele 2 dilakukan secara bergantian hingga hari ke 71 hari, ini dilakukan agar bisa memenuhi kebutuhan akan ikan lele untuk masyarakat Kota Mojokerto karena permintaan yang cukup tinggi.
Dari 5.000 ekor bibit lele ukuran 3 cm, bisa menghasilkan sebanyak 458 kg dengan berat per kg isi 8-10 ekor sesuai permintaan pelanggan. Selama pemeliharaan, budidaya ikan lele tersebut menghabiskan pakan 12-14 sak, masing-masing sak isi 30 kg dengan harga pakan pelet Rp375 ribu per sak.
Sementara, rasa daging lele sistem bioflok ini juga lebih enak dibanding budidaya lele biasa. Warna lelenya juga lebih menarik, yakni agak kekuning-kuningan dan cemerlang. Harga jual ikan lele di Pokdakan Wahyu Lele 2 Rp18.500 per kg di tengkulak dan Rp20 ribu per kg untuk masyarakat.
“Ini lihat tebar ukuran. Bibit ikan lele dengan ukuran tebal 3 cm paling lama masa panen 2,5 bulan. Sedangkan ukuran 5-6 cm paling lama masa panen dua bulan. Di sini, kita gunakan lele jenis berlian, keunggulannya lebih cepat besar dan tingkat kematiannya 0, persen,” ungkapnya, Senin (20/2/2023).
“Rasanya beda dengan lele lain. Selain rasanya yang lebih gurih, dagingnya padat sehingga ketika digoreng tidak kempes dan tetap utuh tidak mengecil. Untuk penjualan, kita tidak kesulitan karena sudah ada tengkulak yang mengambil. Bahkan sampai kita kewalahan memenuhi permintaan,” ujarnya.
Sehingga ia membuat manajemen di kelompoknya yakni dengan memanen hasil budidaya lele mereka secara bergantian. Sehingga kebutuhan akan ikan lele bisa terpenuhi. Namun selain tengkulak langganan, ada rumah makan atau warung yang rutin order setiap hari.
“Minat masyarakat terhadap konsumsi ikan lele di Kota Mojokerto cukup tinggi karena ikan lele harganya terjangkau. Dengan jumlah anggota 14 pembudidaya dan kolam lebih dari 42 unit, total dalam sebulan kelompok mampu panen sampai 5 ton lele. Bulan depan ini panen, kita sudah ada gambaran panen berapa banyak,” jelasnya.
Karena perkembangannya yang terus dipantau. Salah satu kendala yang dialami anggotanya adalah kehabisan pakan. Jika itu terjadi biasanya pembudidaya akan menjual harta benda demi membeli pakan. Kendala lainnya, pompa air yang ukuran kecil karena dengan sistem bioflok diharuskan rutin membuang sebagian air.
“Sebagian air harus rutin dibuang dan mengganti dengan air yang baru. Ini rutin dilakukan dua kali sehari. Jika pompa air kecil maka pengisiannya akan lebih lama sehingga kotoran lele yang menjadi amoniak membuat air menjadi kotor sehingga nafsu makan lele berkurang dan lemas,” tuturnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”budidaya-lele”]
Ia mengaku jika air di Lingkungan Karanglo cukup melimpah, namun hanya kadang kendala di pompa. Untuk pakan tidak sulit karena kita sudah kerjasama dengan pabrik, mungkin secara pribadi biaya untuk beli pakannya yang jadi kendala. Menurutnya, Kampung Lele prakarsanya tersebut mendapat support dari Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto.
“Iya Bu Wali Kota Mojokerto, Dinas Ketahanan Pangan, pihak kecamatan dan kelurahan mendukung. Mereka berharap ke depan agar kita bisa membuat pakan sendiri dan memperbesar produksi olahan lele dengan menambah kolam. Namun kami berharap ada pinjaman pembiayaan sehingga bisa menambah jumlah kolam dan pakan,” pungkasnya. [tin/ted]







