Lamongan (beritajatim.com) – Belasan pemuda di Lamongan mengikuti kompetisi barista, yang digelar Mundus Coffee, Kelurahan Jetis, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan. Mereka beradu kemampuan dalam meracik dan menyajikan kopi yang nikmat.
Diketahui, para peserta dalam kompetisi ini merupakan barista yang berasal dari kafe atau kedai yang ada di kawasan Lamongan. Selain untuk mengeksplor kreasi dalam penyajian kopi, kompetisi barista ini juga bertujuan untuk mengenal lebih dekat bagaimana atmosfer relasi dunia kopi di Lamongan.
“Ya, selain untuk mengembangkan kreasi dan inovasi di bidang kopi. Kompetisi ini juga untuk mengetahui atmosfer sesama kompetisi dan mempererat relasi,” ujar Hamami Rafif (49), Owner Mundus Coffee yang menggelar kompetisi barista itu, Kamis (9/2/2023).
Hamami menyebut, peserta dalam kompetisi ini memang dibatasi. Tercatat, ada 16 pemuda yang berprofesi sebagai barista yang berpartisipasi pada kompetisi ini. Ia juga berkata, ada beberapa ketentuan yang harus dilakukan oleh para peserta.
“Peserta dikenakan biaya Rp 50 ribu untuk bisa mengikuti lomba ini. Ada ketentuan yang harus diikuti oleh peserta, diantaranya mereka hanya disediakan biji kopi 20 gram dan air, yang kemudian harus diracik dan disajikan,” ujar alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya, Malang tersebut.
Salah satu barista yang antusias untuk mengikuti kompetisi ini adalah Cindy Kurnia Dwiyanti. Perempuan berusia 19 tahun ini mengaku tertantang untuk mengikuti kompetisi barista yang sudah lama ia nantikan.
“Saya penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam tentang inovasi dalam meracik kopi dan menyeduhnya. Saya juga ingin tahu, bagaimana orang menikmati dan menilai kopi hasil dari racikan yang saya buat,” kata Cindy.
Dirinya juga mengungkapkan bahwa barista merupakan profesi yang ia tekuni dalam setahun terakhir ini. Meski ia seorang perempuan, namun ia yakin bisa bersaing dengan para peserta lain yang didominasi dari kaum adam.
“Menjadi barista itu seru dan menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri. Walaupun semuanya soal selera, tapi banyak hal yang bisa kita eksplor dari dunia kopi,” terang gadis asal Ngaglik, Sukorejo, Kecamatan Lamongan itu.
Sementara itu, juri dalam kompetisi barista ini, Sandy Bachtiar mengungkapkan, biji kopi yang diracik oleh para peserta adalah biji kopi yang berasal dari Garut, Jawa Barat. biji kopi itu diracik oleh para barista menggunakan grinder yang telah disediakan.
Ada beberapa penilaian yang ditekankan oleh juri asal Gresik itu kepada para peserta, di antaranya kepiawaian peserta dalam meracik kopi secara manual brew, dengan metode V-60, cara menyeduhnya, hingga after test atau rasa yang ditinggalkan kopi saat disajikan dan dinikmati.
“Kegiatan ini digelar pertama kali secara mandiri, 16 barista berpartisipasi. Selain itu juga ada sharing, edukasi dan teknik yang dibagikan kepada para barista,” tutur Labrium Coffee Roaster, SCA CSP Sensory Certified, saat diwawancarai.
Sandy menerangkan, kompetisi barista ini tak melulu soal menang atau kalah. Lebih dari itu, kompetisi adalah soal ritus kebahagian yang tak ternilai. Di penghujung acara, Sandy juga memberikan tentang cara meracik dan resep kopi terbaiknya. Racikan itu kemudian dinikmati oleh para peserta dan pengunjung yang hadir.
Melalui kompetisi ini, Sandy berharap, akan bermunculan berbagai inovasi yang dilakukan oleh para barista maupun pecinta kopi. Dengan demikian, UMKM perkopian di Lamongan bisa semakin berkembang dan menggeliat.
“Harapannya bisa makin luas, kegiatan anak-anak muda yang positif ini supaya terus ke arah yang lebih baik. Barista-barista lokal juga bisa berbicara banyak di event regional dan nasional lainnya,” harapnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”lamongan”]
Sebagai informasi, Mundus Coffee adalah kafe yang menyajikan racikan kopi yang unik daripada kafe pada umumnya. Kafe milik Hamami itu dibangun pada Agustus 2012 dan resmi dibuka pada Juni 2022.
Hamami selaku owner mengaku termotivasi untuk mendirikan kafe karena terinspirasi dari teman-temannya saat masih kuliah di Malang. Ia juga mendalami banyak referensi tentang rasio, ukuran gilingan, suhu dan serba-serbi kopi dari beberapa kafe dan kedai saat masih di Malang.
Apa yang dilakukan Hamami bukan tanpa kendala, ia pernah mengalami kerugian saat membuka kedai kopi yang berlokasi di sebelah Polres Lamongan. Ia kemudian bangkit dan menata cafe baru yang ia namakan mUndus Coffee di tanah milik orangtuanya.
Bangunan kafe itu ia desain sendiri. Meski lokasinya berada di gang yang agak masuk ke dalam, namun ia optimis jika kopi akan menemukan penikmatnya sendiri. Di kafe itu, ada jenis arabica, cappucino, coffe latte, dan kopi manual brew pakai mesin yang disajikan.
Bahkan, ada ekspedisi kopi exotis yang ia sajikan. Kopi itu ia datangkan langsung dari negara Ethiopia, Panama, dan lainnya. Kini, ada beberapa macam mesin kopi yang ia miliki dengan harga sekitar Rp40 juta. Sederet kopi itu di cafenya dijual dengan harga mulai dari Rp10 ribu sampai dengan Rp28 ribu.[riq/ted]






