Surabaya (beritajatim.com) – Hari Pers Nasional (HPN) diperingati oleh setiap insan pers setiap tanggal 9 Februari bertepatan dengan ulang tahun Persatuan wartawan Indonesia (PWI) yang berdiri pada tahun 1946 di kota Solo.
Dalam momentum HPN 2023, Direktur Pusat Studi HAM (PusHAM) Surabaya memberikan gambaran penting insan pers dalam membongkar manipulasi fakta dalam beberapa kasus di tahun 2022-2023.
Ditemui beritajatim.com, Direktur Pusham Surabaya, Johan Avie menjelaskan jika didalam ekosistem bisnis media yang masih berusaha bangkit usai pandemi, pers tetap menjalankan fungsinya sebagai alat control social.
Berdasarkan catatan Pusham Surabaya, kata Johan, sepanjang tahun 2022-2023, Pers Indonesia berperan penting di dalam menggagalkan upaya oknum untuk memanipulasi fakta. Setidaknya, terdapat 2 kasus nasional yang berhasil dibongkar oleh insan pers, yaitu Kasus Fredy Sambo, dan Kasus Korban Kecelakaan yang ditetapkan tersangka (Hasya).
“Di dalam Kasus Sambo misalnya. Peristiwa penembakan terhadap Brigadir Joshua ini sesungguhnya telah terjadi sejak tanggal 8 Juli 2022. Satu dua hari setelah kejadian, Para Pelaku mencoba menutupinya. Namun pada tanggal 11 Juli 2022, pers mulai mengendusnya. Media Massa beramai-ramai menuliskan berita dengan judul yang kurang lebih seragam, Kasus Polisi Tembak Polisi di Rumah Kadiv Propam Polri. Saat itu, konstruksi beritanya masih seputaran Aksi Tembak-Menembak antar Polisi, konstruksi manipulative yang sejak awal coba dibangun oleh Fredy Sambo dan para koloninya,” ujar Johan saat diwawancarai Beritajatim, Kamis (09/02/2023).
Johan menambahkan jika atas desakan masyarakat yang disuarakan oleh para insan pers, Polres Jakarta Selatan dan Polda Metro Jaya mengeluarkan keterangan resmi pada tanggal 11 Juli 2022 tentang kasus yang menyeret Jenderal Sambo.
Semakin didesak, makin banyak kontruksi manipulasi fakta yang telah di skenariokan oleh Sambo dan beberapa orangnya. Puncaknya, pers bersama masyarakat berhasil mendesak kepolisian untuk membeberkan fakta sebenarnya terkait kematian brigadir Joshua.
“Ini menunjukan jika pers memiliki peran penting untuk tetap menjadi alat control social. Selain itu, pers masih terjaga kesuciannya dengan tidak memberitakan hoaks. Atau bahkan, sering kali pers bisa membantah hoaks yang beredar di masyarakat,” imbuh Johan.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga tersebut lantas menyinggung kasus Hasya. Alumnus Universitas Indonesia yang meninggal dunia akibat ditabrak oleh mobil Purnawirawan polisi berpangkat AKBP pada Kamis (06/10/2022).
Pada tanggal 7 Oktober 2022, Laporan Polisi dibuat oleh pihak kepolisian sendiri dengan konsep Laporan Model A.
Sejak Oktober-Desember 2022, Polisi melakukan Penyidikan. Hasil penyidikan sempat membuat heboh masyarakat. Hasil penyelidikan ditetapkan didalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) oleh penyidik yang berisi jika Hasya ditetapkan sebagai tersangka. Namum bebarengan dengan SP2HP yang diterima keluarga, polisi juga mengeluarkanSurat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Nomor B/17/2023/LLJS tertanggal 16 Januari 2023.
Sejauh pengamatan Pusham Surabaya, kata Johan, kasus Hasya mulai mencuat ke Media Massa di antara tanggal 23-25 Januari 2023. Gencarnya pemberitaan di media massa inilah yang kemudian memaksa Polda Metro Jaya untuk menggelar konferensi pers pada tanggal 27 Januari 2023. Saat itu, Polda Metro Jaya membenarkan scenario penetapan Tersangka terhadap Hasya. Pers tiada henti-hentinya mengungkap kejanggalan-kejanggalan, termasuk menyuarakan aspirasi dari Keluarga Hasya.
“Hasilnya pada 7 Februari 2023, Polda Metro Jaya menyatakan secara resmi bahwa status Tersangka atas diri Hasya dicabut. Bahkan, Polda Metro Jaya juga menyatakan bahwa terdapat kesalahan prosedur di dalam tahap penyidikan, dan meminta maaf secara resmi kepada Keluarga Hasya. Pers kembali menjadi pahlawan karena mewakili suara masyarakat,” tegas Johan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ferdy-sambo”]
Dalam momen HPN 2023, PusHAM Surabaya berharap jika momen peringatan penting dalam dunia pers dapat diperingati dengan semangat perjuangan dalam melawan ketidakadilan, menyuarakan kelompok peripheral, dan mengungkap kebenaran.
“Selamat Hari Pers Nasional semoga pers tetap mampu menjaga idealisme untuk membela orang-orang lemah dan mampu menjadi pilar keempat dalam demokrasi,” pungkas Johan. (ang/ted)






