Surabaya (beritajatim.com) – Organisasi sayap NU, Barisan Ansor Serbaguna atau yang biasa disingkat Banser turut andil dalam puncak resepsi hari lahir (harlah) 1 abad NU yang digelar di stadion Delta Sidoarjo hari ini, Selasa (7/2/2023).
Banser ambil bagian dalam tugas penting pengamanan jalannya acara harlah 1 abad NU. Dalam menjalankan tugas ini, Banser bekerjasama dengan TNI dan kepolisian RI guna upaya keamanan dan kelancaran jalannya acara ini.
Melansir NuOnline, Banser Hasan Basri Sagala, Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) mengatakan pihaknya mengerahkan 25.000 personel Banser dan 5.000 pasukan Pagar Nusa untuk mengamankan Puncak Resepsi Hari Lahir (Harlah) 1 Abad NU hari ini.
[berita-terkait number=”5″ tag=”NU”]
Berdasarkan penuturan Hasan, total personel untuk mengamankan puncak Resepsi 1 Abad NU ini mencapai 40 ribu personel. Termasuk penambahan dari tim pengamanan unsur TNI, dan Polri serta dinas terkait.
Nama Banser sendiri sudah tidak asing di telinga masyarakat. Tugasnya sebagai penjaga keamanan dalam berbagai acara, khususnya yang digelar warga nahdliyyin ini, menjadikan masyarakat beberapa kali menemui mereka dalam beberapa kesempatan. Berikut sejarah singkat berdirinya Banser.
Sejarah Singkat Banser
Banser awal mulanya adalah organisasi yang berasal dari peran tokoh-tokoh muda NU berpandangan luas seperti Mahfudz Siddiq, Wahid Hasyim, Thohir Bakri, Abdullah Ubaid, dan anak-anak muda lainnya.
Dalam Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, Jawa Timur pada 1934, anak-anak muda ikut menyampaikan pandangannya mengenai berbagai masalah kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dari sinilah Ansor dilahirkan dari situasi konflik internal dan tuntutan kebutuhan alamiah NU. Yang mana pada waktu itu terjadi perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan.
KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda. Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab Chasbullah –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air).
Organisasi tersebut yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya sempat dinamai Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Dengan demikian Anshoru dimaksudkan agar pemuda-pemuda dapat mengambil hikmah serta teladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Namun, pada waktu itu ANO secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU.
Pengakuan terhadap Ansor secara formal Organisatoris dalam struktur NU baru sejak Muktamar NU ke-9 di banyuwangi, tepatnya 21-26 April 1934. ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.
Dalam perkembangannya, ANO Cabang Malang secara diam-diam mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut Banser (Barisan Serbaguna).
ANO menunjukkan kebolehan Banoe pertamanya dalam Kongres II di Malang pada 1937, dalam keahlian baris berbaris mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang.
Instruktur umum Banoe Malang pada waktu itu adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namanya tetap dikenang, bahkan diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Malang. (kai/nap)






