Mojokerto (beritajatim.com) – Puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Qurro’wa Munsyidin mengikuti latihan tarian sufi di Sanggar Pesantren Semanggi Dusun Semanggi, Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Ini dalam rangka persiapan pemecahan rekor MURI dalam peringatan Satu Abad NU di Gelora Delta Sidoarjo.
Sebanyak 49 santri ini dengan memakai kostum tenur berbagai warna ini sebagai penanda usia para penari, sementara untuk santri dewasa memakai tenur warna putih. Dengan memakai topi yang memanjang ke atas, para santri menarikan sufi yang memiliki gerakan memutar melawan arah jarum jam.
Pengasuh Ponpes Roudlotul Qurro’wa Munsyidin, Muhammad Nurul Huda mengatakan, latihan bersama tarian sufi tersebut untuk mengikuti rangkaian peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo. “Santri di sini yang mengikuti tarian sufi di Sidoarjo ada sebanyak 49 santri,” ungkapnya, Sabtu (4/2/2023).
Sementara di puncak resepsi peringatan Satu Abad NU di Gelora Delta Sidoarjo pada, Selasa (7/2/2023) besok, akan ada 400 lebih santri yang mengikuti tarian sufi. Sebanyak 400 lebih santri yang akan mengikuti tarian sufi tersebut berasal dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Kebetulan saya yang diberikan amanat sebatai koordinator tari sufi Satu Abad NU di Sidoarjo dalam rangka untuk memecahkan rekor MURI. Nantinya para penari manari sepajang 2 KM dari Alun-alun sampai Gelora Delta Sidoarjo. Tari sufi ini sebagai media untuk mengingat kepada Allah SWT,” katanya.
Tarian sufi yang memutar melawan arah jarum jam tersebut dimaknai sebagai pencarian jati diri. Selain itu, lanjut Gus Huda, gerakan tangan kanan ke atas dimaksudkan sebagai simbol mengharapkan rahmad Allah SWA. Sementara tangan kiri ke arah bawah dengan harapannya agar bisa menyebatkan cinta.
“Tarian sufi bisa dikatakan sebagai tarian cinta. Filosofi kostum, baju sufi namanya tenur itu sebenarnya yang warna putih. Warna putih itu mengibaratkan kita memakai kain kafan dan kopiah yang tinggi, ibaratnya memakai batu nisan karena tarian sufi ini mengingatkan kematian,” jelasnya.
Jika seseorang mengingat mati, maka akan takut berbuat maksiat. Di peringatan Satu Abad NU, Gus Huda berharap ke depan, NU lebih baik dari tahun yang kemarin. Jika sebelumnya ada para kader yang keluar dari NU, bisa kembali ke NU. Kader yang NU-nya belum kental, di satu abad NU maka NU-nya semakin kental.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Tarian dari Turki ini juga dikenal dengan sebutan whirling dervishes. Tarian ini lahir dari buah pikiran penyair Persia, Jalaluddin Rumi. Melansir dari tourketurki.com, tarian ini pertama kali dipertunjukkan di wilayah Anatolia, Turki, pada abad ke-13.
Dalam sejarah Turki, tarian ini berawal dari kematian guru spiritual Rumi, yaitu Syamsuddin Tabriz. Karena rasa kehilangan yang sangat mendalam, Rumi mengekspresikan kesedihannya tersebut dengan menari berputar-putar. [tin/but]







